Sejalan dengan cepatnya perkembangan teknologi, yang diikuti dengan tingginya kebutuhan akan telekomunikasi dan sistem informasi,  industri Telekomunikasi di tanah air saat ini menjadi bisnis yang sangat prospektif dan menjanjikan. Hal ini ditandai dengan maraknya operator/provider yang terjun ke dalam bisnis ini, baik itu lokal maupun mancanegara. Hal ini terjadi di setiap segmen telekomunikasi, baik itu Telekomunikasi Suara maupun Telekomunikasi Data. Bahkan provider telekomunikasi suara beramai-ramai ikut terjun ke telekomunikasi data khususnya Internet, karena pasar Internet yang sangat luas dan terbatasnya infrastruktur provider Telekomunikasi Data yang ada.

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan dinamika ini, karena hal tersebut justru terbukti dapat meningkatkan produktifitas customer dan khusus di Komunikasi Suara/seluler, realita ini justru menjadi tren tersendiri dikalangan pemakainya. Hal ini bisa dibuktikan dari tingginya pertumbuhan pemakai Blackberry dan banyaknya user yang mengakses situs-situs sosialita, misalnya Facebook melalui handset yang mereka miliki. Tapi kalau diperhatikan dibeberapa media yang ada, hal ini juga ternyata diikuti oleh tingginya tingkat complaint yang terjadi karena ketidakpuasan customer atas layanan yang didapatkan. Provider memang memiliki cara masing-masing untuk menghadapi hal itu, namun pada intinya customer tetap menjadi pihak yang dirugikan.

Persaingan Harga

Banyaknya operator yang bermain di industri telekomunikasi ini membuat peta persaingan menjadi sangat ketat, dan operator harus menyiapkan strategi masing-masing untuk memasuki pasar. Disaat operator concern di kualitas dan pelayanan, pasar justru dikejutkan dengan adanya persaingan harga di pasar, yang lebih menarik kalau diistilahkan dengan perang harga, yang muncul dalam berbagai versi iklan baik melalui media maupun promosi-promosi yang dilakukan dalam berbagai event.  Dinamika ini terjadi diseluruh segmen, baik itu Telekomunikasi Suara maupun Telekomunikasi Data.

Kalau ditrace labih jauh lagi, perang harga ini  sebenarnya dimulai oleh operator-operator yang baru muncul, dengan tujuan agar dapat diterima oleh market. Dan hasilnya bisa dilihat, strategi tersebut berhasil. Melihat hal itu, operator-operator yang besarpun ikut tergoda dan akhirnya perang harga tidak dapat dihindari. Hari-hari belakangan ini dapat disaksikan bersama betapa “murahnya” harga dari produk-produk telekomunikasi tersebut, dan semakin hari persaingan justru menjadi tidak sehat, karena pasar justru mengambil alih kendali atas nama Harga. Ironisnya operator justru banyak yang terlena, fokus kepada penjualan yang tinggi dengan harga yang sangat murah, tetapi melupakan faktor perbaikan kualitas jaringan dan pelayanan. Publik tinggal menunggu, operator mana yang paling kuat didalam mengikuti strategi “perang” ini dan provider mana yang tidak sanggup lagi berjuang.

Psikologi Pasar

Banyaknya provider yang bermain dan adanya perang tarif tentu akan menguntungkan buat market dan industri telekomunikasi Indonesia pada umumnya. Tapi disisi lain hal ini juga membuat customer membutuhkan keterampilan khusus dalam memutuskan produk mana yang akan digunakan. Customer dihadapkan pada banyak pilihan yang dikemas dalam bahasa marketing yang sangat kreatif dan menggoda. Pada segmen corporate, customer justru banyak yang bimbang karena setiap penawaran yang datang semuanya menarik dan dengan fitur-fitur yang dikemas secara luar biasa demi menarik minat konsumen.  Faktanya tidak sedikit yang memilih penawaran yang termurah. Sebagai contoh, produk internet yang ada dipasar saat ini harganya sangat bervariasi, tapi kalau diteliti lebih dalam lagi, kualitas dan layanan dari produk ini equivalen dengan harganya.

Secara mendasar, adalah wajar jika customer memilih harga yang termurah karena hal itu akan dapat menurunkan operational cost mereka. Tapi justru disini dibutuhkan kejelian untuk dapat memutuskan produk yang akan dipakai. Customer, khususnya segmen corporate, mesti bisa melihat detail kemasan produk yang ditawarkan agar produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan telekomunikasinya, dan yang terpenting adalah kualitas dan after sales service dari produk tersebut. Customer corporate tidak bisa secara buru-buru memilih harga yang lebih murah, karena ketika produk tersebut tidak tepat guna, cost yang muncul akan membengkak dan justru tidak bermanfaat untuk peningkatan produksi. Bagi corporate sendiri, penggunaan produk telekomunikasi yang premium juga merupakan citra eksistensi dari corporate tersebut.

Penulis berkeyakinan bahwa pada akhirnya pasar akan kembali kepada provider yang mengedepankan kualitas dan pelayanan walaupun harganya lebih mahal, karena baik buruknya kualitas dan pelayanan jasa telekomunikasi secara langsung akan mempengaruhi tingkat produktifitas customer.

Peran Pemerintah/Regulator

Didalam menghadapi ketatnya persaingan dan dalam rangka menjadikan Operator Nasional menjadi provider yang berskala internasional tentunya peranan regulator dalam hal ini pemerintah melalui Depkominfo sangat dibutuhkan. Dalam hal ini regulator harus bisa tegas dan benar-benar melakukan control atas penyelenggaraan telekomunikasi di tanah air. Regulator juga diharapkan lebih objektif terhadap seluruh provider sehingga kredibilitasnya lebih kuat. Kejadian-kejadian seperti tidak diindahkannya larangan SMS Gratis antar operator, lambannya implementasi teknologi Wimax, “diusirnya” penghuni jaringan di frekuensi 3,5GHz, lambatnya implementasi USO dll, menunjukkan masih lemahnya peranan regulator dalam industri telekomunikasi kita.

Dan untuk meningkatkan penetrasi dan kualitas penyelenggaraan telekomunikasi, regulator harus bisa membuat aturan-aturan yang konsisten dengan komitmen yang tinggi dalam controllingnya. Prosedur perizinan penyelenggara telekomunikasi juga harus diperketat supaya persaingan tetap sehat dan fokus. Regulator diharapkan tegas terhadap provider yang tidak memiliki infrastruktur yang memadai, tidak memiliki lisensi frekuensi, dan faktor-faktor lain yang terkait standarisasi penyelenggaraan telekomunikasi nasional.

Pada akhirnya penyelenggaraan telekomunikasi yang berkualitas tinggi dengan pelayanan after sales yang terbaik akan menguntungkan seluruh komponen industri ini, baik regulator, provider dan yang terpenting adalah customernya.

Penulis adalah Pakar dan Praktisi Telekomunikasi Data di Medan.

Advertisements