Bank Indonesia (BI) memperkirakan proses redenominasi akan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Tahapan pertama yang dilakukan bank sentral yakni sosialisasi yang dimulai dari tahun 2011 dan tuntas selesai di 2022.

Demikian disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia terpilih Darmin Nasution dalam konferensi persnya di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (3/8/2010).

“Redenominasi adalah proses penyederhanaan penyebutan satuan harga dan nilai. Rencananya dibutuhkan waktu 10 tahun,” jelas Darmin.

Ia memaparkan, redenominasi akan dimulai pada tahun 2011 dimana pada tahap pertama dilakukan tahapan sosialisasi sampai dengan tahun 2012.

“Kemudian dilakukan redenominasi tersebut pada 2013 yang merupakan masa transisi sampai 2015,” katanya.

Pada masa transisi Darmin menjelaskan akan digunakan dua penilaian atau dua kuotasi yang tertuang dalam undang-undang.

“Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru,” ungkap Darmin.

Misalnya, lanjut Darmin, di toko-toko yang menjual sebuah barang akan tercatat 2 label harga. Yakni dengan rupiah lama dan dengan rupiah baru. Jika nol-nya disederhanakan 3 digit, lanjut Darmin, kalau harga barangnya Rp 10.000 maka akan dibuat dua label yakni Rp 10.000 untuk rupiah lama dan Rp 10 untuk rupiah baru.

“Pada masa transisi tersebut maka akan berlaku kedua-duanya rupiah baru dan rupiah lama. Masyarakat boleh bebas memilih,” tutur Darmin.

“Misalkan lagi kalau beli sepatu harga Rp 300.000 maka kita bisa bayar pakai uang rupiah baru Rp 300 atau tetap rupiah lama Rp 300.000. Nanti pun uang rupiah baru akan dicetak atau dicap bertandakan rupiah baru,” imbuh Darmin.

Hal tersebut, lanjut Darmin akan berlaku di seluruh wilayah termasuk ke pedagang kaki lima. “Masa transisi ini dilakukan selama 3 tahun dari 2013 sampai 2015. Nah untuk pencetakan uang baru hanya dilakukan jika uang lama sudah tidak lagi layak pakai jadi uang yang beredar tetap saja di masyarakat,” jelasnya.

Setelah masa transisi dilakukan, Darmin kemudian menjelaskan pada tahun 2016-2018 dilakukan penarikan uang rupiah lama sampai habis.

“Dan pada 2019 sampai 2022 tulisan cap ‘baru’ pada uang rupiah baru akab dihapus dan nilai rupiah akan semakin tinggi nilainya,” tukasnya.

Lebih lanjut Darmin mengatakan semua ini akan disampaikan ke Pemerintah atau dengan kata lain presiden dan dibahas juga di DPR.

Bank sentral merasa perlu melakukan redenominasi karena seperti kita ketahui uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

sumber : detikfinance