Sabtu pagi itu sebenarnya semuanya biasa-biasa saja, namun menjadi tidak biasa karena menjadi hari penentuan demi sebuah gelar yang bernama Sarjana Komputer. Yup, sabtu (31/7) merupakan jadwal seminar dan Sidang/Meja Hijau untuk Skripsi-ku.

Bangun pagi sudah diset dengan bantuan Jam Weker, dan untungnya sesuai schedule. Setelah tahapan rutinitas terlalui, maka langkah berikutnya adalah mengantarkan Stella ke sekolah. Sepanjang jalan anak-anakku ngoceh aja, namun ngocehnya seperti membakar semangat dan motivasi buatku agar siap menghadapi sidang nanti. Dan setelah sampai disekolah, Stella dan Stanley (dan tentunya mamanya juga donks) memberikan sebuah semangat luar biasa kepadaku untuk memberikan yang terbaik buat mereka.

Dan perjalanan-pun dilanjutkan.. Hebatnya sepanjang jalan yang kulalui secara kebetulan semuanya lancar sehingga tiba di Kampus justru menjadi yang pertama. Hal ini membuatku semakin yakin bahwa semuanya akan dapat berjalan dengan lancar. Singkat cerita, sidang-pun dimulai. Tadinya aku begitu yakin bahwa aku akan menjadi yang pertama sekali maju, karena merasa sudah siap dan ada signal kearah sana. Namun ohh, ternyata bukan. Satu per satu peserta sidang keluar dan masuk dari Ruangan, ada yg gembira namun ada juga yang agak “pucat”, sehingga membuat nyali sedikit ciut. Namun segera kekhawatiran itu kubuang jauh-jauh dengan tetap fokus kepada Skripsi yang telah disiapkan.

Dan akhirnya tibalah giliranku. Didalam jadwal kulihat bahwa Dosen Pengujinya adalah Pak Romulo Aritonang dan Pak Suwaji. Satu hal yang membuat lebih confident adalah faktor sudah kenal dengan Pak Romulo karena pernah berinteraksi didalam beberapa mata kuliah. Dan untungnya beliau tidak menciptakan suasana yang mencekam yang membuat aku sedikit lebih comfort. Namun ternyata Pak Suwaji dalam sidang ini berperan sebagai figur yang ofensif dan cenderung represif terhadap hal-hal yang muncul didalam Skripsi-ku. Untungnya aku sudah pernah mengikuti Sidang seperti ini saat penyelesaian Program D3 7 tahun yang lalu, sehingga hal ini tidak membuatku down. Satu demi satu pertanyaan kutanggapi sebaik mungkin sesuai pemahaman yang kumiliki. Agak sulit memang, karena berhadapan dengan orang-orang Akademisi yang sudah pasti memegang erat teori secara detail. Dalam beberapa kali perdebatan, aku berhasil memenangkan situasi dengan kata kunci “pemahaman”. Jadi misalnya ketika Penguji menanyakan pengertian Sistem Informasi, aku menjawab sesuai dengan pemahamanku, namun ternyata tidak sepaham dengan maksud Dosen Penguji. Hingga beberapa kali pengulangan masih tidak puas, sampai akhirnya bisa puas cuma karena 1 kalimat “berguna buat orang banyak”. Namun kemudian setelah itu, aku bilang ke Penguji bahwa, “Pak, jika acuannya adalah Teori, mungkin akan banyak, bahkan bisa ribuan pengertian dari Sistem Informasi ini, dan belum tentu kita bisa sepakat. Menurut saya yang terpenting dari semuanya adalah pemahaman, karena kalau hanya tahu atau hapal, tapi tidak paham ya sama saja. Toh dari penjelasan saya tadi sebenarnya kan tidak ada yang keluar dari konsepnya?” Dan ternyata buat Pak Romulo itu menjadi kredit point buat saya. Ada beberapa kali kondisi seperti itu terjadi, namun semuanya dapat kulalui dengan jawaban yang berkonsepkan pemahaman. Memang ada beberapa hal, khususnya dari pertanyaan Pak Aji yang tidak sepakat dengan aku, namun aku merasa kelihatannya itu hanya situasi yang dicreate oleh beliau untuk menurunkan confidence-ku, karena jika ternyata itu adalah wawasan real dari beliau, aku pikir peserta manapun akan kesulitan menghadapi beliau karena pertanyaannya itu justru Out Of Context dan cenderung memaksakan kehendak.

Sampai akhirnya, selesailah seluruh rangkaian Meja Hijau ini, dan sore harinya diumumkan-lah hasil dari Sidang ini, aku lulus dengan nilai 82,5 yang berarti dapat nilai A. Puji Tuhan, aku sangat bersyukur karena telah melewati semuanya, dan yang paling surprise ternyata aku mendapatkan nilai yang terbaik untuk peserta Sidang yang dilangsungkan saat itu. Satu kebanggaan sebenarnya, tapi aku merasa itu biasa saja karena menyadari aku berada dikelas Executive yang tidak bersaing dengan anak reguler.

Dan akhirnya semuanya selesai, akupun pulang ke rumah sambil menyampaikan kabar sukacita ini kepada Keluarga Kecil-ku serta Orangtua tercinta. Terimakasih buat kalian semua, buat semua support dan doa hingga aku dapat menyelesaikan pendidikan ini dengan hasil yang baik. Gelar ini buat kalian semua. Semoga bisa menjadi bekal, dan kelak bisa ditingkatkan lagi. Dan buat anak-anakku, ini menjadi tantangan buat kalian untuk dapat minimal menyamai pencapaian Papamu ini.  Thanks God.