Pihak kepolisian memang punya hak untuk menjaga keamanan sebuah pertandingan sepakbola. Namun haruskah hak tersebut sampai pada level mencampuri urusan di dalam lapangan?

“Kemarin itu saya beritahukan penonton itu membludak. Harusnya 50.000 penonton, tapi di dalam menurut pengamatan kami ada 70.000. Situasinya memang sesak bahkan untuk nonton di tribun susah sekali,” demikian ucap Kapolda Jawa Tengah Alex Bambang Riatmodjo dalam wawancaranya dengan Metro TV. Ia memberikan pembelaan setelah mengintervensi pertandingan final Piala Indonesia hari Minggu (1/8/2010) lalu.

Itu bukan pertama kalinya Alex turun tangan dalam sebuah pertandingan. Setahun lalu dia sempat menahan Bernard Mamadou dan Nova Zaenal karena dianggap sebagai biang kerusuhan dalam laga Liga Indonesia Divisi Utama. Proses penahanan dua pesepakbola itu kemudian dapat banyak tentangan dari publik bola Indonesia.

Nova dan Bernard Mamadou akhirnya dijatuhi hukuman enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun. Itu pun setelah mengalami serangkaian sidang melelahkan selama satu tahun.

Pada Februari 2010 ia juga punya andil dalam penangkapan wasit Dedi Wahyudi. Sang pengadil diciduk usai memimpin pertandingan PSIS Semarang melawan Mitra Kukar Tenggarong di stadion Jatidiri Semarang.

Selain wasit Dedi, asisten wasit I Fajar Riyadi (Yogyakarta), Asisten Wasit II Sutopo (Denpasar), dan Pengawas Pertandingan Chairul Adil (Jakarta) juga sempat menjalani pemeriksaan intensif penyidik.

“Yang bersangkutan juga banyak mengambil keputusan-keputusan yang kurang objektif sehingga dikhawatirkan dapat memancing keributan baik pada saat pertandingan maupun diluar pertandingan,” kata Alex waktu itu seperti dilansir Antara.

Dedi beserta ofisial pertandingan lainnya kemudian dilepas. Mereka tak terbukti melakukan tindak pidana suap dalam memimpin pertandingan.

Lalu, apalagi komentar Alex mengenai intervensinya pada final Piala Indonesia?

“Pada akhir babak pertama, mereka mulai melempar-lempar. Mereka kemudian berteriak-teriak ‘tembak wasit’. Saya kemudian mengatakan kepada panitia, ini tolong disampaikan kepada PSSI, tolong dikaji, penonton sudah tak menyukai wasit.”

“Saya kemudian memberikan opsi, pertama wasit cadangan yang naik menggantikan pak Jimmy karena penonton sudah tak menyukai kepemimpinannya. Opsi kedua, pertandingan dilanjutkan dan pak Jimmy tetap memimpin dengan catatan lebih baik lagi memimpinnya.”

Alex kemudian mengatakan, tindakannya itu juga dilandasi oleh peraturan FIFA Safety Guide. “Saya sangat paham dengan peraturan FIFA. Di sana ada FIFA Safety Guideline. Pada pasal satu poin dua, ketentuan FIFA meberlakukan untuk tetap menghormati hukum-hukum negara, termasuk di dalamnya polisi,” tukasnya.

Pengamat sepakbola Anton Sanjoyo, dalam wawancara yang sama di Metro TV, kemudian membenarkan mengenai peraturan FIFA tersebut. Yang ia sayangkan hanyalah cara Alex mencampuri urusan pertandingan. Harusnya wewenang pertandingan menjadi tanggung jawab wasit beserta ofisial lainnya.

“Apa yang dikatakan Pak Kapolda itu sepenuhnya benar. Tapi di sini ada trust. Ketika izin sudah diberikan, maka itu menjadi kewenangan dari panitia pelaksana dan wasit.”

“Kalau memang ada kemungkinan rusuh, mengapa izin diberikan?”

“Saya kira, kita harus menghargai ranah masing-masing. Polisi menghargai ranahnya wasit dan wasit menghargai ranahnya polisi,” simpulnya.

Anton kemudian memberikan contoh final Piala Dunia 2010 lalu. Kala itu Wasit Howard Webb dengan royal mengeluarkan 14 kartu kuning dan satu kartu merah. Tetapi tak ada yang mengintervensinya.

“Saya pikir, pihak kepolisian di Johannesburg sana juga sudah membaca rules of the game tapi mereka tak mengintervensi kepemimpinan Howard Webb yang mengeluarkan satu kartu merah dan 14 kartu kuning.”

“Kalau terus mengintervensi, bisa hancur nanti sepakbola,” tandasnya.

Wewenang wasit di lapangan sendiri memang tak seharusnya diganggu gugat. Dalam Laws of The Game FIFA tertulis dengan jelas, suatu pertandingan dikontrol oleh seorang wasit yang memiliki wewenang penuh untuk menerapkan Laws of the Game pada pertandingan di mana ia sudah ditunjuk untuk memimpinnya.

Laws of The Game FIFA kemudian menulis wewenang dan kekuasaan wasit. Sang pengadil berhak memberhentikan, menunda atau mengurungkan pertandingan karena ada pelanggaran peraturan.

Wasit juga berhak untuk memberhentikan, menunda atau mengurungkan pertandingan jika ada intervensi dalam bentuk apa pun dari luar. Itu artinya, satu-satunya yang berkuasa dan memiliki hak dalam sebuah pertandingan memang cuma wasit.

Oleh karena itu ada baiknya Alex menyerahkan urusan di dalam lapangan kepada sang pengadil. Dia benar dengan niatnya untuk menjaga keamanan, namun ranahnya ada di luar lapangan. Silakan saja jika kemudian ia ingin menangkapi suporter yang berbuat rusuh, karena itu memang hak dan wewenangnya.

sumber : detiksport