Anak-anak yang kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah belum tentu karena si anak bodoh. Bisa jadi memang si anak memiliki kesulitan belajar spesifik yang membuatnya tidak bisa belajar seperti anak normal.

Setidaknya ada 6 tipe anak yang mengalami gangguan yang membuatnya susah belajar. Orangtua harus tanggap jika anak terus menerus tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya.

Anak yang memiliki kesulitan belajar spesifik biasanya dikenal dengan anak LD (Learning Differences). Anak-anak seperti ini memiliki cara atau gaya belajar yang berbeda dengan anak-anak lainnya.

Hal ini disebabkan anak LD memiliki disfungsi minimum otak (DMO), sehingga menyebabkan tercampuraduknya sinyal-sinyal yang diterima oleh indera dan otaknya.

“Anak-anak ini tidak memiliki masalah dengan kecerdasannya, karena pada umumnya memiliki tingkat IQ yang normal atau di atas rata-rata. Hanya memiliki gaya belajar yang berbeda saja,” ujar Vitriani Sumarlis, MSi, Psi seorang psikolog di SD Pantara, saat ditemui detikHealth, Selasa (3/8/2010).

Kesulitan belajar spesifik ini mencakup kesulitan membaca (disleksia), kesulitan menulis (disgrafia), kesulitan berhitung (diskalkulia), kesulitan berbahasa (disfasia), sulit berkonsentrasi (ADD) dan hiperaktif (ADHD).

Kebanyakan anak LD ini memiliki masalah di dalam dirinya yang kadang-kadang membuat masyarakat dan lingkungan sekitarnya terganggu, sehingga terkadang sulit bagi anak LD untuk bersekolah di sekolah umum dan tak jarang mendapatkan cap sebagai anak yang nakal, bodoh atau pembuat masalah (troublemaker).

Satu hal yang harus ditegaskan adalah anak-anak LD ini berbeda dengan anak-anak yang mengalami keterbelakangan dan juga anak LD tidak perlu bersekolah di sekolah khusus SLB/C.

Anak dengan masalah kesulitan belajar biasanya memiliki beberapa gejala, yaitu:

1. Gangguan persepsi visual (penglihatan)

  1. Melihat huruf atau angka dengan posisi yang berbeda dari yang ditulis, sehingga anak-anak sering kali terbalik dalam menulisnya kembali.
  2. Sering ada huruf yang tertinggal dalam menulis.
  3. Menulis kata dengan urutan yang salah, misalnya ibu menjadi ubi.
  4. Sulit memahami antara kanan dan kiri.
  5. Sulit mengkoordinasikan antara mata dan tindakan, misalnya mata dengan tangan atau kaki tidka sinkron.

2. Gangguan persepsi auditori (pendengaran)

  1. Sulit membedakan bunyi.
  2. Sulit memahami perintah, terutama jika harus menerima beberapa perintah sekaligus.
  3. Sulit menyaring bunyi yang datang dari beberapa sumber, sehingga anak menjadi bingung dan kacau. Hal ini membuat anak sulit untuk berdiskusi, karena saat mencoba memahami suatu suara sudah datang suara lainnya.

3. Gangguan bahasa

  1. Sulit memahami atau menangkap apa yang dikatakan orang lain kepadanya.
  2. Sulit mengkoordinasikan atau mengatakan apa yang sedang ada di dalam pikirannya.

4. Gangguan perseptual motorik

  1. Kesulitan motorik halus, misalnya sulit mewarnai, menggunting atau menempel.
  2. Memiliki masalah dalam koordinasi dan orientasi, sehingga membuat anak terlihat canggung atau kaku dalam gerakan.

5. Hiperaktivitas

  1. Sulit mengontrol aktivitas motorik dan selalu bergerak-gerak (tidak bisa diam).
  2. Berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas lainnya tanpa menyelesaikan tugas sebelumnya.
  3. Impulsif atau suka melakukan gerakan yang tiba-tiba.


6. Kacau (distractability)

  1. Tidak bisa membedakan antara stimulus (rangsangan) yang penting dan tidak penting.
  2. Tidak teratur, karena anak ini tidak memiliki urutan dalam proses pemikirannya.
  3. Perhatiannya sering berbeda dengan apa yang sedang dikerjakannya.
  4. Melamun atau mengkhayal saat sedang belajar di sekolah.

sumber : detik.com