Seiring rencana redenominasi atau penyederhanaan nilai tukar rupiah, wacana pergantian mata uang pun muncul. Sebagian memandang perlu ganti mata uang agar tidak menimbulkan kebingungan rupiah lama dan rupiah baru, namun sebagian berpandangan pergantian rupiah tidak diperlukan.

Guru Besar FE UKI, Roy Sembel termasuk yang sepakat dengan nama mata uang baru untuk menggantikan rupiah. Menurut Roy, hal itu penting agar tidak ada kebingungan menyebut rupiah lama dan rupiah baru.

“Agar tidak bingung menyebut rupiah lama dan rupiah baru, bagusnya dicarikan nama baru bagi mata uang baru sekaligus rebranding mata uang Indonesia. Itu satu-satunya cara,” ujar Roy kepada detikFinance, Selasa (10/8/2010).

Namun Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa termasuk yang tidak sepakat dengan penggunaan mata uang baru setelah redenominasi rupiah. Menurutnya, pergantian mata uang sebaiknya tidak dilakukan karena manfaatnya yang relatif sedikit sementara redenominasi sendiri masih menghadapi ketidakpastian apakah prosesnya mulus atau tidak.

“Kalau kita memang ingin mempunyai mata uang baru juga, lebih baik nanti saja kalau rencana penciptaan single currency di Asia akan dijalankan,” jelasnya.

Purbaya menambahkan, rencana redenominasi rupiah masih menghadapi ketidakpastian. Hal ini dikarenakan negara yang melakukan redenominasi umumnya adalah negara yang ekonominya sempat hancur-hancuran dan kemudian membaik.

“Ekonomi kita amat jauh lebih baik dari negara yang dipakai oleh BI sebagai referensi studinya. Memaksakan redenominasi justru akan merusak citra kita dan mengurangi kredibilitas rupiah,” tegas Purbaya.

Seperti diketahui, BI akan melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100  miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru. Redenominasi diharapkan bisa tuntas pada tahun 2022. (qom/dnl)

sumber : detikfinance