Saham PT Astra International Tbk (ASII) masih mendominasi nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Astra masih mengungguli PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan dua bank besar di Indonesia.

Sebelumnya, saham Telkom selalu menguasai nilai kapitalisasi pasar terbesar di BEI sebelum digeser Astra International. Nilai kapitalisasi pasar diperoleh dari perkalian harga saham dengan jumlah saham perseroan.

Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga Senin 9 Agustus 2010, nilai kapitalisasi pasar Astra mencapai Rp197 triliun. Posisi kedua ditempati Telkom dengan nilai kapitalisasi pasar Rp171 triliun.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul di peringkat ketiga dengan Rp150 triliun. Selanjutnya, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di urutan keempat dengan nilai kapitalisasi pasar Rp127 triliun.

Bank beraset terbesar di Indonesia, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bertengger di posisi lima, setelah membukukan nilai kapitalisasi pasar Rp125 triliun.

Senior Manager, Head of External Relations Department, Corporate Communication Astra International, Bismo Abiyoso, mengatakan, Astra mulai mendominasi kapitalisasi pasar di bursa sejak 3-4 bulan lalu.

“Sebagai perusahaan publik, Astra menerapkan prinsip GCG (tata kelola perusahaan yang baik) dan comply pada peraturan,” kata Bismo dalam pesan singkatnya kepada VIVAnews di Jakarta, 10 Agustus 2010.

Menurut dia, tingginya nilai kapitalisasi pasar Astra tersebut ditentukan oleh pelaku pasar.

Tim riset PT Reliance Securities Tbk mengatakan, penguatan harga saham Telkom sudah mulai terbatas. “Jenuh beli sudah melanda pergerakan TLKM walaupun masih dalam pola trend bullish,” kata tim riset itu dalam ulasannya.

Meski demikian, Arief Budiman, analis PT Phillip Securities Indonesia, dalam ulasannya belum lama ini mengatakan saham Telekomunikasi Indonesia masih direkomendasikan beli dengan target harga Rp10.050.

Menurut Arief, target harga tersebut mencerminkan price to earning ratio (PER) dan enterprise value (EV)/laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) 2011 sebesar 15,2 kali dan 5,1 kali yang mendekati rata-rata valuasinya untuk lima tahun terakhir.

“Kami meyakini prospek industri seluler Indonesia masih bagus. Apalagi, perseroan memiliki neraca yang kuat dan profitabilitas yang cukup tinggi,” ujar dia.

Arief memperkirakan investor mulai mencari saham yang tertinggal kinerjanya pada saat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah naik tinggi. Pemodal kemungkinan mulai melihat saham Telkom karena bobotnya nomor kedua terbesar di komponen IHSG.

Per 9 Agustus 2010, total nilai kapitalisasi pasar di BEI mencapai Rp2.551,3 triliun, atau meningkat dari Rp2.051,15 triliun pada 4 Januari 2010. (hs)

• VIVAnews