Likuiditas berlimpah tapi pertumbuhan kredit seret. Itulah fakta yang membuat Bank Indonesia (BI) harus berpikir keras untuk mengatasinya.

Pjs Gubernur BI Darmin Nasution mengakui telah terjadi ekses likuiditas di Indonesia untuk jangka waktu yang lama. Sayangnya, kelebihan likuiditas itu lantas tidak cepat terserap melalui penyaluran kredit. Bank-bank memilih untuk menempatkan dananya di sejumlah instrumen surat berharga.

BI pun kini menyiapkan sejumlah amunisi untuk mengatasi kepincangan tersebut, salah satunya adalah dengan aturan Loan to Deposit Ration (LDR) dan Giro Wajib Minimum (GWM). Namun diakui penerapan aturan GWM sesuai LDR itu masih terganjal oleh rendahnya LDR di sejumlah bank-bank rekap besar.

BI juga menyiapkan sejumlah aturan agar bank-bank nantinya bisa berkompetisi soal suku bunga. Diantaranya adalah dengan kewajiban mengumumkan prime lending rate.

Apa saja yang akan dilakukan BI agar bank-bank tak lagi malas mengucurkan kredit? Apa saja amunisi yang telah disiapkan BI?

Berikut wawancara detikFinance dengan Gubernur BI terpilih Darmin Nasution di ruang kerjanya, Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Bagaimana BI mendorong kredit?

Perekonomian kita itu sebenarnya ada ekses likuiditas sudah sangat lama, sudah sejak rekap-rekap bank di tahun 2001-2002. Tahun 2001-lah mulainya itu pada waktu penyelamatan bank-bank nah kemudian ditambah krisis global 2008 pemerintah juga memindahkan dananya dari BI ke bank-bank BUMN ada insentif macam-macam dan itu semua menghasilkan ekses.

Cuma memang pada saat yang sama kan juga pemerintah pun memperkenalkan Surat Berharga Negara, Ada SBN ada SUN, SUKUK dan macam-macam. Pasar modal yang lain juga didorong untuk berkembang. Nah, yang boleh dikatakan ironis adalah ada saat-saat nya kemudian kita sebenarnya ekses likuditas tapi pemberian kreditnya lambat. Kecil
sekali.

Bagaimana bisa begitu?

Bank itu punya pilihan penempatan dana, ada di SBI, ada di SUN juga banyak apalagi bank-bank rekap tadi dan seterusnya.

Nah walaupun seharusnya memberikan kredit, kan mestinya laba dia naik kalau dia memberikan kredit tapi karena macam-macam hal bisa karena persoalan krisis global kemarin pemberian kredit praktis berhenti tahun lalu. Jadi kenapa berhenti ya tidak total berhenti lah tapi sudah dekat ke berhenti.

Nah di negara maju BI Rate nya itu hampir 0%, ada yang 0,25%. Di Jepang malah dibawah itu, di Eropa sedikit lebih tinggi 0,5-0,75%, kenapa begitu karena memang mereka mendorong kredit agar jalan.

Tapi memang pada akhirnya kredit tidak jalan juga karena memang lagi krisis, sebetulnya satu sama lain itu tidak percaya seperti berindikasi nanti robohnya kapan nih, jangan-jangan ada masalah, apalagi bank dia beli surat berharga yang sekuritisasi subprime mortgage. Itulah sebab kenapa kredit tahun lalu itu tidak jalan, dan begitu kecilnya pertumbuhan.

Tapi 2010 ini sebetulnya sudah mulai tumbuh walaupun belum merasa cukup oleh karena itu dicari jalan supaya ada kepastian pemberian kredit memang benar-benar berjalan. Kenapa kita merasa menganggap harus ada kejelasan kredit itu memang diberikan karena kita melihat ekonomi kita akan berkembang dengan lebih baik. Beberapa negara
tetangga juga semakin baik Malaysia, Singapura, kalau 2009 memang negatif tapi 2010 dia all out. Nah artinya perekonomian di kawasan ini bergerak lebih baik tumbuh dengan baik. Nah, oleh karena itu kita harus memang benar ada satu lagi yang perlu ditambahkan.

Dalam bentuk apa? Apakah sebuah aturan untuk mendorong kredit bisa tumbuh?

Di tahun 2009 pertumbuhan kredit hanya 10% tetapi laba bank itu naik cukup besar dibanding tahun sebelumnya, itu kan berarti mereka bisa merancang portofolio berapa persen di SBI berapa persen di SUN, berapa persen kasih kredit gitu. Nah dengan kredit yang tumbuhnya kecilpun dia bisa labanya besar. Memang itu termasuk juga nanti dengan spread yang tidak turun-turun bahkan cenderung stabil saja dia. Nanti bunga itu saya singgung lagi tetapi dari semua itu kita melihat yang jelas ini harus ada kepastian ada dorongan yang memberikan disinsentif dan insentif supaya mereka memberikan kredit. Itu latar belakangnya kita menyusun peraturan mengenai LDR yang dikaitkan dengan GWM itu.

Memang belum diteken, tetapi memang sudah final sebenarnya karena ada beberapa hal tadinya yang memang sedikit agak rumit. Karena begini sebenarnya LDR kita rendah itu karena 4 bank besar yang LDR-nya kecil, kalau dikeluarkan 4 bank itu LDR kita itu tinggi, nah kita kasih range kita ikut yang mana kan agak rumit dan agak lama.

Lalu bagaimana mencari range yang tepat?

Ya harus tetap dilakukan, kalau dikeluarkan aturan ini pasti ada yang kena disinsentif, tapi kita kan kasih transisi selama 6 bulan.

Betul di kisaran 75%-105% LDR-nya?

Tidak jauh-jauh dari situ, hanya tapi mungkin angkanya berbeda satu dua poin diatas dan dibawah tidak akan banyak berubah.

Jadi kita perlu itu supaya sekaligus dikaitkan dengan GWM insentif serta disinsentifnya karena memang dasarnya sebenarnya kita ekses likuiditas pasti GWM naik kan, supaya sejalan tujuannya ditambah dengan mengucurkan kredit tapi landasannya sama kita akan menjawab persoalan kelebihan likuiditas itu memberikan insentif dalam bentuk
GWM juga.

Lalu bagimana mengenai tingkat bunga, BI Rate satu tahun lebih sudah ditahan dan memang suku bunga kredit perbankan turun tipis sekali. Bagaimana bisa?

Nah sekarang tinggal urusan tingkat bunganya. Itupun sebenarnya kita sudah mulai tahun lalu, kita sudah mengundang 14 bank-bank besar kemudian kita minta untuk sepakat untuk menetapkan tingkat bunga deposito itu pada Oktober 2009 itu sekitar 7% untuk deposito sebulan. Dan mereka sepakat, kalau ada yang main-main ya kita panggil dan kita ingatkan kalau masih terus maka kita akan fit and proper lagi.

Anda pernah bilang, nantinya hampir mirip kesepakatan 14 bank tapi sekarang katanya dalam bentuk peraturan, betul kah?

Itu kan dua mingguan lalu, saya mengundang mereka 14 bank besar tapi satu saya mengingatkan bahwa kesepakatan masih berlaku yang dulu. Kemudian kita sosialisasikan bahwa mereka wajib mengumumkan prime lending rate, bukan hanya mereka tapi semua bank umum kecuali BPR.

Prime lending rate itu adalah tingkat bunga pinjaman dikurangi premi risiko. Jadi kalau dia bilang berdasarkan cost of fund dia overhead dia macam-macam kalau tidak dihitung premi risiko tapi profitnya mau diambil semua maka dia harus umumkan di koran, di website dan dilaporkan ke BI juga nanti kita periksa.

Kenapa itu perlu, kita memiliki hak, sampai hari ini struktur biaya bank itu kita masih melihat overhead saja tidak seragam pengertiannya mereka, kalau dibenahi dari dasarnya bisa lama. Maka premi risiko lah dikeluarkan, kita tanya saja premi risikonya berapa untuk nasabah utama, dan nasabah lain agar jelas. Dengan demikian mendorong
bank-bank ini bersaing karena dugaan kita mengapa tahun lalu kredit naik 10% kok profit naik karena mereka mampu menciptakan keseimbangan dengan bunga kredit tinggi. Terjadi keseimbangan, bukan sekongkol, tapi mereka saling tahu supaya laba mereka lumayan.

Nah jawaban untuk itu adalah bersaing dan caranya suruh mereka mengumumkan prime lending rate, bukan hanya mereka bersaing tapi nasabah juga dapat bergaining dengan bertanya prime lending ratenya berapa dan premi risikonya berapa.

Sehingga sebetulnya dan dalam kesempatan itu saya sudah menyampaikan bahwa yang namanya hadiah-hadiah itu tidak ada gunanya secara makro tidak ada advantage apa-apa, secara mikro memang ada dia bisa merebut dana nasabah lain. Nah, oleh karena itu kalau nanti tidak jalan pengumuman prime lending rate maka kita akan masuk ke wilayah seperti itu. Sepanjang berjalan maka tidak perlu masuk, kita pokoknya mau bunga turun.

Kapan bank mulai Implementasi prime lending rate di umumkan?

Aturan sudah mulai dibahas sudah dibicarakan di komite-komite di BI, substansinya sih sudah tidak ada perbedaan lagi. Di BI itu aturan bisa agak lama itu ya memang sudah begitu adanya lewat ini, itu pelan-pelan tapi dipercepat.

Kapan?

Itu akan selesai menjelang akhir tahun ini sehingga tahun depan sudah bisa berjalan.

Jadi begini, sebenarnya itu semua kita harapkan 2 tahun dari sekarang bisa berjalan semua sudah kelihatan hasilnya sehingga inflasi lebih stabil kecuali tentu yang tidak bisa dikendalikan seperti harga cabai, STNK, kalau secara makronya kita akan menjaga terus betul-betul agar moneternya tidak mendorong inflasi.

Kita mengendalikan BI Rate agar tidak mudah terpengaruh naik, kita tidak mau ikut-ikutan walaupun negara lain menaikkan tapi kita punya pertimbangan dan itungan sendiri sehingga kita tetap bisa mendorong bunga kredit turun, kita mendorong kredit.

Terakhir itu kita berharap redenominasi itu bisa berjalan. Intinya itu, tiga tahun dari sekarang bisa berjalan supaya dia menjadi dan melengkapi semua dan kita jalankan dalam dua tahun ini bisa berjalan.

sumber : detikfinance