Jika sekarang ini kita mengenal format TV analog hanya dengan 3 macam (PAL, NTSC, SECAM), pada era format digital kita akan mengenal istilah Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T).

Siaran TV Digital dengan teknologi DVB-T mempunyai banyak keunggulan dibandingkan siaran TV analog meliputi tahan terhadap efek interferensi, gambar tanpa “noise” atau “ghost” (bayang2, bintik2, semut), lebih interaktif dengan EPG (Electronic Program Guide), serta kualitas gambar yang lebih baik walaupun dalam keadaan bergerak (mobile).

Kelebihan lainnya juga dalam efisiensi, antara lain pada spektrum (bandwidth), network transmission, power transmission dan juga efisiensi dalam power consumption.

Pemerintah telah memutuskan sistem Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T) sebagai standar nasional Indonesia karena dari hasil uji coba yang dilakukan oleh Tim Nasional Migrasi TV dan Radio dari Analog ke Digital, teknologi DVB-T lebih unggul dan memiliki manfaat lebih dibandingkan dengan teknologi penyiaran digital lainnya.

Menurut para pengamat media mengenai sosialisasi TV digital, Teknologi ini mampu memultipleks beberapa program sekaligus, di mana enam program siaran dapat ”dimasukkan” ke dalam satu kanal TV berlebar pita 8 MHz, dengan kualitas yang jauh lebih baik.

Ibarat satu lahan, yang semula hanya dapat dimanfaatkan untuk satu rumah, dengan teknologi ini mampu dibangun enam rumah dengan kualitas bangunan jauh lebih baik dan kapasitas ruangan lebih banyak.

Di samping itu, penambahan varian DVB-H (handheld) mampu menyediakan tambahan sampai enam program siaran lagi untuk penerimaan bergerak (mobile). Hal ini sangat memungkinkan bagi penambahan siaran-siaran TV baru.

Menkominfo Mohammad Nuh mengibaratkan implementasi siaran televisi digital layaknya rumah susun. Maksudnya?
“TV digital itu seperti rumah susun karena dalam satu kavling bisa dihuni beberapa keluarga. Itu artinya telah tercipta efisiensi,” maksud beliau.

Uji coba siaran digital juga sudah diimplementasikan pada pertengahan Januari 2009 lalu oleh konsorsium lembaga penyiaran swasta (LPS) yang beranggotakan antara lain, SCTV, MetroTV, ANTV, TVOne, dan TransTV.

Jika Indonesia baru merencanakan migrasi ke TV Digital Format tahun 2009 ini, lain halnya dengan negara lain.
Di Jerman, proyek ini telah dimulai sejak tahun 2003 untuk kota Berlin dan tahun 2005 untuk Muenchen dan saat ini hampir semua kota besar di Jerman sudah bersiaran TV digital.
Belanda telah memutuskan untuk melakukan switch off (penghentian total) siaran TV analognya sejak akhir 2007.
Perancis akan menerapkan hal sama pada tahun 2010. Inggris sejak akhir 2005 telah melakukan uji coba mematikan beberapa siaran analog untuk menguji penghentian total sistem analog bisa dilakukan pada tahun 2012.
Kongres Amerika Serikat telah memberikan mandat untuk menghentikan siaran TV analog secara total pada 2009, begitu pula Jepang pada 2011.
Di Singapura, TV digital diluncurkan sejak Agustus 2004 dan saat ini telah dinikmati lebih kurang 250.000 rumah.
Di Malaysia, uji coba siaran TV digital juga sudah dirintis sejak 1998 dengan dukungan dana sangat besar dari pemerintah dan saat ini siarannya sudah bisa dinikmati lebih dari 2 juta rumah.

Kinerja Depkominfo melalui 3 badannya yakni Badan Regulasi TV Digital, Badan Master Plan Frequency, dan Badan Teknologi Peralatan untuk Persiapan Implementasi TV Digital. Depkominfo juga telah melakukan uji alat konversi dari gelombang analog (RF Antena) di TV analaog untuk menerima gelombang digital yang disebut sebagai set-top box (STB).

Set-top box merupakan sebuah perangkat tambahan untuk menerima sinyal digital yang dipancarkan oleh sistem DVB-T yang kemudian diubah kedalam sinyal analog agar dapat ditampilkan pada monitor TV analog.

(source : Kompas Tekno, detikInet, dll)