Tahun 2008, saham-saham emiten dari grup Bakrie sempat menjadi penggerak utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun saat ini, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, saham-saham yang beken dengan julukan Seven Brothers justru terpuruk.

Kamis (19/8/2010), IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di 3.105,35, naik 1,08 persen dari penutupan hari sebelumnya. Jadi, sepanjang tahun ini, indeks sudah memberi keuntungan 22,53 persen. Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Gudang Garamg Tbk (GGRM), PT Astra International Tbk (ASII), dan pendatang baru PT Berau Coal Tbk (BRAU) hari ini menjadi pendorong kenaikan indeks.

Sekitar dua tahun silam, saham-saham grup Bakrie begitu bertaji dalam menentukan hijau merahnya IHSG. Tapi roda nasib Seven Brothers sekarang sudah berputar ke bawah. Saat sebagian besar harga saham melaju, harga saham tujuh emiten dari grup Bakrie justru terkapar.

Bahkan, lima dari tujuh samurai Bakrie tersebut jatuh di harga terendah mereka tahun ini. Mereka adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Meski juga turun, harga saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tidak jatuh ke level terendahnya tahun ini.

Kemarin, harga saham BUMI terjun 9,79 persen menjadi Rp 1.290 per saham. Dibandingkan harga saham tertingginya Rp 8.550 per saham pada 12 Juni 2008, emiten kebanggaan grup Bakrie ini sudah turun 84,91 persen.

Harga saham ELTY terpangkas 4,95 persen tinggal Rp 96 per saham. Padahal, pada 28 Februari 2008, ELTY mencapai harga tertingginya di Rp 680 per saham. Jadi, harganya sudah diskon 85,88 persen.

Harga saham UNSP anjlok 9,62 persen menjadi Rp 235 per saham. Jadi, saham ini sudah jatuh 91,51 persen dari harga tertingginya, Rp 2.769 per saham, pada 14 Januari 2008.

Senasib, harga saham DEWA terkoreksi 7,27 persen menjadi Rp 51 per saham. Saham ini pernah dihargai paling mahal di Rp 615 per saham pada 28 Desember 2007. Jadi kini nilainya sudah berkurang sekitar 91,71 persen .

Sementara saham BNBR sudah sekitar sebulan terakhir tidak beranjak dari level terendahnya di harga 50 perak. Padahal, induk usaha grup Bakrie ini pernah dihargai Rp 718 per saham pada 15 Februari 2008. Hitung punya hitung, nilai saham ini sudah menyusut 93,04 persen .

Saham BTEL juga tak beranjak dari harga Rp 148 per saham. Tapi, jika dibandingkan dengan harga tertingginya di Rp 407 per saham pada 4 Januari 2008, harga saham ini sudah terpangkas 63,64 persen .

Terakhir, harga saham ENRG terdiskon 17,17 persen menjadi Rp 82 per saham. Harga ini lebih murah 94,21 persen ketimbang harga tertingginya pada 9 Januari 2008 di Rp 1.415 per saham.

Melihat sepak terjang Tujuh Bersaudara belakangan ini, investor yang telanjur menggenggam saham mereka agaknya hanya bisa pasrah. Kekeliruan pencatatan data keuangan, serangkaian aksi rights issue berikut rencana utang seolah memupus harapan harga Seven Brothers untuk naik lagi.

<!–/ halaman berikutnya–>

Editor: Erlangga Djumena   |   Sumber :KONTAN