Tipe anak memang berbeda-beda. Ada yang pendiam, ada yang ceriwis. Anak ceriwis selalu saja memiliki bahan pembicaraan, mengajukan pertanyaan ini apa-itu apa, melontarkan pendapat (meski tak diminta), atau lancar sekali menirukan gaya omongan orang lain.

Tipe ceriwis atau pendiam mulai terlihat kala anak berusia satu tahunan. Bahkan di usia dua tahunan, anak yang kemampuan bicaranya sangat bagus mampu merangkai 3-4 kosa kata sekaligus. Jadi bicara pada usia batita sudah menjadi semacam “pilihan”, apakah anak mau bicara banyak (si ceriwis), atau sedikit (si pendiam). Ada yang berpendapat si ceriwis akan lebih cerdas ketimbang si pendiam, karena ia begitu banyak merangkai pertanyaan akan segala hal yang dilihatnya. Benarkah demikian?

Ternyata, belum tentu! Anak ceriwis, yang banyak bertanya namun tidak mendapat respons yang baik dari orangtuanya, pengetahuannya pun tidak akan bertambah. Sebaliknya, anak pendiam yang orangtuanya selalu memberi stimulasi, selalu mengajaknya bicara, aktif memberikan informasi-informasi terbaru, tentu memiliki wawasan lebih luas ketimbang anak yang ceriwis. Kebiasaan si ceriwis, yang lebih sering berbicara dan bertanya, diakui ahli memang membuat kerja otaknya lebih giat. Namun, si pendiam pun bila selalu aktif mengamati apa yang terjadi di sekitarnya, sama-sama mendapatkan stimulasi yang memacu otaknya untuk berkembang.

Nah, pada anak ceriwis, dalam kehidupan sehari-hari Anda akan dibikin kerepotan menjawab pertanyaannya yang tak ada habisnya. Bagaimana cara menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ceriwis kecil ini? Ini dia tip yang diberikan Ade Irma, S.Psi., M.Si., dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

1. Jawablah setiap pertanyaannya. Kalau pun kita tidak tahu, tak perlu lantas sok tahu. Jujurlah. “Maaf ya, Ibu dan Ayah juga belum tahu jawabannya. Nanti kita cari di buku ya,” pernyataan maaf lebih baik ketimbang memberinya jawaban asal-asalan.

2. Gunakan kalimat sederhana saat berkomunikasi dengan batita. Kalimat panjang dan berbelit-belit hanya akan membuat si kecil sulit menangkap inti dari suatu topik pembicaraan, dan semakin banyak pertanyaan yang diajukannya.

3. Ketika anak mengomentari segala hal yang dilihatnya, tunjukkan antusiasme sewajarnya. “Wah… anak Ibu sudah pandai bicara, ya!” Ini adalah sebagai bentuk apresiasi supaya anak merasa dihargai.

4. Jangan pernah memarahi keceriwisannya. “Ih, Adek tuh cerewetnya minta ampun, deh!” Kalau seperti itu, anak merasa tidak dihargai. Lama-lama bahkan tidak berani lagi mengungkapkan isi hati dan mengutarakan keingintahuannya. Padahal dari sini lah kemampuan bicara dan kecerdasannya akan terasah.

5. Kalau pun anak bertanya dalam situasi dan kondisi yang tidak tepat, sampaikan dengan jujur keberatan kita. “Dek, Ibu lagi nelepon nih. Nanti saja ya, tanyanya setelah Ibu selesai.”

sumber : kompas.com