Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, bangun dari ‘tidur panjang.’ Dua letusan dari gunung ini memaksa 26 ribu warga di sekitar kaki gunung mengungsi.

Gunung Sinabung meletus Minggu 29 Agustus 2010 pukul 00.08 WIB. Asap dan debu membumbung sampai ketinggian 1.500 meter dari bibir kawah. Seperti dimuat laman Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gunung Sinabung berstatus ‘AWAS’ sejak Minggu pukul 10.00 WIB.

Situs itu menyebutkan, aktivitas letusan Gunung Api Sinabung tidak pernah tercatat sejak tahun 1600 sehingga tak diketahui aktivitas letusannya. “Karena letusannya tidak pernah tercatat, maka Gunung Sinabung dikelompokkan dalam tipe B, dan tidak dilakukan pemantauan secara menerus.”

Geliat Sinabung ini memaksa warga di sekitar kaki gunung mengungsi. Kewaspadaan warga sudah muncul sejak gunung ini mengeluarkan asap putih pada 27 Agustus lalu.

Menurut Kepala Kantor Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Perlindungan Masyarakat (Kesbang Linmas) Kabupaten Karo, Suang Karo-Karo, ada satu korban tewas dalam bencana ini, yakni warga Desa Beras Tepu, Kecamatan Simpang Empat. “Saat ini korban tewas sedang divisum tim dokter dari dinas kesehatan kabupaten,” kata Suang yang mengaku belum mengetahui nama korban tewas ini.

Sementara itu, 26 ribu pengungsi lainnya menyebar di dua kota, Brastagi dan Kaban Jahe. “Mereka tercatat berasal dari tiga kecamatan,” kata Suang. Kecamatan asal pengungsi ini adalah Naman Teran (tujuh desa), Kecamatan Payung (tiga desa), dan Kecamatan Tiga Derket (tiga desa).

Mereka ditampung di berbagai titik yang sudah disediakan pemerintah yakni di Kota Brastagi (tiga titik) dan Kota Kaban Jahe (lima titik). “Ada juga yang ke Medan atau ke rumah sanak famili,” jelasnya.

Bagi korban selamat, Suang mengingatkan bahaya debu vulkanik ini karena mengandung silika, bahan pembuatan kaca. Bahan kaca ini, kata dia, berbahaya bagi paru-paru dan mata manusia.  “Saya pun kurang paham bagaimana menjelaskannya. Tapi, itulah menurut kata ahli. Kami sudah imbau masalah ini kepada warga untuk memakai masker,” kata dia.

***

Letusan Gunung Sinabung ini diperkirakan tidak berkembang menjadi ledakan dahsyat. Perkiraan atas gunung setinggi 2.460 meter itu berdasarkan analisis oleh sejumlah ilmuwan dan ahli vulkanologi.

“Menurut pemantauan ahli, gunung api ini tidak akan ada ledakan dahsyat,” kata Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial, Sangap Surbakti.

Saat ini, menurut dia, pemerintah pusat melalui koordinasi pemerintah daerah setempat masih berkonsentrasi dalam proses evakuasi. Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri pun bertolak ke Tanah Karo untuk mengoordinasi dan memantau kondisi terakhir penanganan bencana.

Sebelumnya, pemerintah memprioritaskan evakuasi warga yang tinggal sekitar enam kilometer dari kaki Gunung Sinabung. “Mereka yang tinggal di desa-desa di lokasi itu wajib dievakuasi,” ujarnya.

Sangap menjelaskan, pemerintah ingin memastikan proses evakuasi berjalan tertib dan menjaga warga tidak panik. Sedangkan bantuan yang diberikan pemerintah di antaranya pendirian dapur umum, masker, serta obat-obatan dan tim medis.

Kronologi Letusan Gunung Sinabung:

28 Agustus 2010

– 08.00 – 16.00 WIB: Secara visual terpantau asap putih tipis,   ketinggian sekitar 20 meter dengan tekanan lemah hingga sedang.
– 16.00 – 19.00 WIB: Gunung Sinabung tertutup kabut.
– 19.00 – 24.00 WIB: Tidak terpantau adanya asap dari kawah aktif.
Dengan demikian Gunung Sinabung tidak menunjukkan adanya tanda-tanda peningkatan kegiatan.

29 Agustus 2010

– 00.08 WIB : Terdengar suara gemuruh. Dengan aktivitas tersebut maka G. Sinabung diubah tipenya dari tipe B menjadi tipe A dan statusnya dinyatakan AWAS terhitung pukul 00.10 WIB tanggal 29 Agustus 2010.

– 00.10 WIB : Diputuskan pengungsian masyarakat yang bermukim dan beraktivitas pada radius 6 km dari kawah aktif.

– 00.12 WIB: Tampak asap letusan dengan ketinggian 1.500 meter dari bibir kawah.

• VIVAnews