MEDAN – Setelah menembus rekor tertinggi dalam beberapa hari perdagangan. IHSG akhirnya terkoreksi di akhir perdagangan minggu ini. Aksi profit taking menjadi pemicu terkoreksinya IHSG. Meski demikian, Indeks Bursa diperkirakan masih akan membentuk tren bullish dalam jangka panjang.

Berikut rekomendasi saham dari Danareksa Sekuritas.

UNTR – United Tractor

Produksi batu bara dan overburden removal Pama di bulan Juli 2010 cenderung flat dalam MoM, dengan  jumlah masing-masing sebesar 6,3 Mt dan 53,7 Mbcm. Kinerja pertambangan DEJ pulih kembali dengan jumlah batu bara terjual sebanyak 219 Kt bulan lalu, naik 29% MoM.

Penjualan alat berat Komatsu di bulan Juli turun 8% menjadi 465 unit. Namun begitu, penjualan hingga 7M10 telah mencapai 3.200 unit, atau naik 87% dibandingkan penjualan pada 7M09.

Kami memperkirakan penjualan alat berat akan melanjutkan penurunannya atau akan flat disebabkan cuaca buruk yang berkepanjangan dan karena perayaan Idul Fitri di 3Q10 sehingga akan mengurangi jumlah jam kerja pada sektor bisnis. Namun demikian, kami yakin volume penjualan akan mulai naik di 4Q10 karena faktor musiman.

Menguatnya kinerja DEJ di bulan Juli sangat membanggakan, dan kami perkirakan bahwa penjualan DEJ akan meningkat pesat beberapa bulan mendatang seiring dengan harga pasar batu bara masih berada di atas harga rata-rata kontrak DEJ sebesar US$ 85/ton.

Saat ini saham UNTR diperdagangkan dengan PE 10F/11F sebesar 13,4x/12,9x, dengan TP Rp 21.500, BUY. D-Research 27 Agustus 2010. Penutupan harga pada jumat (27/08) Rp 265.

INDF – Indofood Sukses Makmur
Pendapatan mencapai Rp 18,1 triliun per 1H10, naik sebesar 0,2% YoY. Laba operasional dan earnings juga naik masing-masing sebesar  40,3% dan 76,4% YoY mencapai masing-masing Rp 3,1 triliun dan Rp 1,4 triliun, sebagian besar disebabkan oleh turunnya biaya dan beban bunga.

Gross margin dan operating margin melebar masing-masing sebesar 630 bps dan 490 bps menjadi 32,5% dan 17,2% – pencapaian tertinggi sejak 2001.
Secara keseluruhan, pendapatan sesuai dengan ekspektasi kami serta ekspektasi konsensus kami. Sementara, laba bersih melampaui ekspektasi kami serta ekspektasi konsensus, telah mencapai 67% dari FY10 forecast kami.

Kinerja yang baik ini disebabkan oleh: 1) turunnya harga gandum (US$ 4,4/ bushel di 1H10 vs. US$ 4,6/bushel di 1H09), 2) sedikitnya pemakaian pupuk pada divisi perkebunan. Terlebih lagi adanya pengurangan utang sekitar Rp 2,3 triliun per 1H10 sehingga mengurangi  beban bunga sebesar Rp 175 miliar.

Outlook INDF kami perkirakan akan sedikit melemah di 2H10 seiring dengan kenaikan harga gandum (sekitar US$ 6,2/bushel saat ini). Kemudian juga, divisi perkebunan akan menambahkan lebih banyak pupuk di 2H10. Sehingga kami memperkirakan operating margin sekitar 13,6% di FY10F.

Untuk saat ini penilaian kami masih positif terhadap INDF, mempertahankan rekomendasi BUY dengan TP Rp 5.100 yang mengimplikasikan PER10F-11F sebesar 18,8-16,6x. D-Research 26 Agustus 2010. Penutupan harga pada jumat (27/08) Rp 4000.

ISAT – Indosat
Laba bersih  1H10 mencapai Rp 287 miliar, turun sangat signifikan sebesar 71,5% YoY dibandingkan tahun lalu. Penurunan ini dipicu oleh menyusutnya laba forex. Core profit juga turun signifikan sebesar 42,7% YoY menjadi Rp 391 miliar karena lemahnya kinerja operasional dan tingginya beban bunga.

Opex terlihat masih terkontrol, dengan kenaikan EBITDA sebesar 6,3% YoY menjadi Rp 6,3triliun di 1H10. Namun, laba operasional turun 15,9% menjadi Rp 1,6 triliun karena kenaikan depresiasi sebesar 23,9% YoY menjadi Rp 3 triliun. Pendapatan hanya tumbuh 8,3% YoY menjadi Rp 9,7 triliun berkat dukungan bisnis seluler. Sedangkan dari segmen internet dan data, pendapatan turun 12,5% YoY menjadi Rp 1,2 triliun.

Meskipun kinerja ISAT lemah secara YoY, namun secara QoQ pendapatan tumbuh 4,1% menjadi Rp 4,9 triliun di 2Q10, dengan EBITDA melampaui pertumbuhan pendaptan sebesar 6,8% QoQ menjadi Rp 2,4 triliun di 2Q10. Core profit naik tiga kali lipat menjadi Rp 391 miliar di 2Q10. Namun demikian, perusahaan belum merilis kinerja operasionalnya.

Kami akan merevisi angka serta rekomendasi setelah mendapatkan kelanjutan informasi dari manajemen  mengenai kinerja ISAT. D-Research 25 Agustus 2010. Penutupan harga pada jumat (27/08) Rp 6900.

BDMN – Bank Danamon
NPAT di 1H10 mencapai Rp 1,4 triliun, naik 65% YoY. Secara QoQ, earnings tumbuh sebesar 4% QoQ, didukung oleh penurunan pada COC dan fee dari kredit. Pertumbuhan kredit mencapai 10% QoQ. NIM  bergeser menjadi 11,6% dari 13,4% di 4Q09. NPL menurun menjadi 3,4% dari 4,0% di 1Q10 dengan kontribusi terbesar berasal dari pinjaman usaha mikro.

CAR cukup kuat yaitu sebesar 19,5% per 2Q10 sebelum penerapkan dari Basel II operational risk, setelah penerapan operational risk, CAR menjadi sekitar 18%. Sementara itu, ROAE meningkat menjadi 19,3% dari 18,0% di 1Q10. Asset yield turun sebesar 150 bps dari 18,3% di 4Q10.

Profitabilitas menguat, dikarenakan turunnya COC menjadi Rp 562 miliar di 2Q10 dari Rp 578 miliar di 1Q10. BDMN menargetkan mencapai ROE sebesar 20% hingga akhir tahun ini. Kredit tumbuh hampir di seluruh segmen, terkecuali untuk kredit retail. Kredit dari mass market tumbuh 12% QoQ, dilatar belakangi oleh penguatan pembiayaan otomotif dan kredit mikro. Segmen mass market terhitung sebesar 56% dari total portfolio kredit BDMN.

Saat ini CASA mencerminkan sekitar 39% dari total simpanan. Namun hal ini tidak akan berlangsung lama, khususnya karena LDR telah mencapai 99%. Simpanan terhitung sebesar 89% dari total pendanaan BDMN.

Sisanya berasal dari obligasi, REPO dan pinjaman jangka panjang lainnya. BDMN merupakan top pick kami untuk sektor perbankan karena modal dasarnya yang kuat, NIM yang kuat serta pertumbuhan kreditnya yang berkelanjutan. Dengan TP Rp 6.850 atau dengan PBV FY11 sebesar 3,0x, rekomendasi BUY tetap kami pertahankan. D-Research 24 Agustus 2010. Penutupan harga pada jumat (27/08) Rp 3050.

Diasuh oleh : Gunawan Benjamin, Sumber : Danareksa, Jl. Pulau Pinang No.4 Medan, Telp. 4528100, Hp. 0813 9790 9929. Terima konsultasi dan edukasi gratis.

WASPADA ONLINE