Kanker telah menjadi penyebab kematian utama di seluruh dunia. Tingkat kejadian dan beban kanker semakin besar. Secara global, kematian akibat kanker melebihi jumlah penderita AIDS, malaria, dan tuberkulosis.

Namun, tanpa adanya tindakan yang berarti untuk mencegah kematian dini dari kanker, penyakit tersebut akan terus membunuh berjuta-juta manusia di seluruh muka bumi. Untuk menghentikan peningkatan kematian akibat kanker, perlu aksi mendesak dari pemerintah, individu, dan komunitas kesehatan.

Dalam Kongres Kanker Sedunia ke-21 di Shenzen, China, 18-21 Agustus lalu, yang diselenggarakan International Union Against Cancer (UICC), Presiden UICC David Hill mengatakan, pengurangan epidemi kanker secara global telah menjadi salah satu dari prioritas kesehatan dunia yang mendesak. Karena itu, komunitas kanker sedunia mesti terus berdiskusi dan bekerja sama untuk mendorong pentingnya pencegahan, screening, pendeteksian, serta pengobatan dan manajemen yang efektif.

Kongres kali ini mengambil tema pencegahan penyakit yang dapat dicegah, mengobati pasien yang bisa diobati, melalui sistem harapan menjadi kenyataan. Konferensi ini membahas pencegahan kanker, screening atau penyaringan, deteksi dini, pengobatan dini, dan dukungan pengobatan khusus, perawatan rumah sakit, dan masalah lain.

Berdasarkan data yang dirilis International Agency for Research on Cancer, salah satu lembaga di bawah Badan Kesehatan Dunia PBB, penderita kanker dunia mencapai 12,7 juta orang pada tahun 2008 dan mengakibatkan kematian 7,6 juta penderita. Pada tahun 2030 diramalkan akan ada 21,4 juta kasus kanker baru dengan 13,2 juta kematian.

Kanker bisa terus menjadi penyakit yang mematikan, kata Otis W Brawley, karena derasnya industrialisasi dan adopsi gaya hidup Barat. Selain itu, pertumbuhan populasi dan penuaan juga akan menambah kasus kanker.

Penderita kanker terbanyak di dunia adalah kanker paru-paru (12,7 persen), kanker payudara (10,9 persen), dan kanker usus besar (9,7 persen). Sebanyak 58 persen kasus kanker terjadi di negara miskin dan berkembang serta kematian mencapai 63 persen.

Sementara kanker yang menyebabkan kematian paling tinggi secara global adalah kanker paru-paru (18,2 persen), disusul kanker perut, dan kanker hati. Jika dilihat lokasinya, di negara berkembang lebih banyak kasus kanker rahim dan kanker hati. Di negara maju yang paling dominan adalah kanker prostat dan kanker usus besar.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di antara kaum pria, kematian tertinggi terjadi pada penderita kanker paru-paru, perut, hati, dan usus besar. Adapun di kalangan perempuan yakni kanker payudara, paru -paru, perut, usus besar, dan rahim.

Dapat dicegah

Hill mengatakan, sebenarnya sepertiga dari semua kasus kanker dapat dicegah. Hampir sebagian besar atau sekitar 40 persen timbulnya kanker disebabkan faktor gaya hidup, penyakit infeksi, dan lingkungan atau pekerjaan yang berhubungan dengan zat-zat berbahaya.

”Berarti penyakit kanker potensial untuk dicegah. Perlu adaptasi global, nasional, dan perseorangan untuk membuktikan jika faktor-faktor itu diatasi, kasus dan kematian kanker bisa dikurangi,” ujar Hill.

Di negara berkembang, pemicu tingginya kejadian kanker adalah penggunaan tembakau, alkohol, sedikit mengonsumsi sayur dan buah, serta infeksi kronis dari hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV), dan beberapa tipe Human Papilloma Virus (HPV).

Strategi pencegahan dengan meningkatkan penghindaran pada faktor-faktor di atas, vaksinasi melawan HPV dan virus hepatitis B, mengontrol asupan zat-zat bahaya, dan mengurangi terpaan sinar matahari.

Dalam pengontrolan peningkatan kanker di dunia, menurut Otis W Bradley dari American Cancer Society, kata pesan yang sekarang ini semestinya gencar digemakan adalah deteksi dini menyelamatkan hidup.

Deteksi dini dapat menurunkan sepertiga dari beban kanker jika kasus dideteksi dan diobati secara dini. Deteksi dini kanker didasarkan pada observasi bahwa pengobatan lebih efektif ketika kanker dideteksi lebih awal. Tujuannya untuk mendeteksi kanker ketika masih lokal (belum menyebar).

Produk tembakau

Dari sejumlah faktor gaya hidup yang memicu munculnya kanker, penggunaan tembakau bisa jadi salah satu faktor utama pencegahan kanker yang paling luas di dunia saat ini. Tembakau menyebabkan 80-90 persen kematian dari kanker paru-paru dan sekitar 30 persen kematian karena kanker di negara-negara berkembang.

Pengontrolan produk-produk tembakau yang merugikan kesehatan menjadi isu tersendiri yang serius dibahas dalam kongres kanker sedunia kali ini. Ala Alwan, Asisten Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, mengatakan, rokok yang paling banyak risikonya untuk penyakit non-comunnicable, seperti sakit jantung, stroke, kanker, diabetes, dan sakit paru-paru kronis.

Oleh karena itu, perlu dilakukan strategi komprehensif, termasuk pelarangan iklan-iklan dan sponsor produk tembakau, peningkatan pajak produk tembakau, dan menggencarkan program-program yang dapat mengurangi konsumsi tembakau. Inisiatif ini telah menunjukkan hasil efektif menurunkan jumlah kematian kanker. Sayangnya, tidak semua negara mengimplementasikan intervensi yang penting itu.

Hanya sekitar 9 persen negara yang memandatkan bar dan restoran bebas rokok serta 65 negara melaporkan mengimplementasikan kebijakan bebas rokok di tingkat nasional.

Penyakit infeksi menyebabkan hampir 22 persen kematian di negara berkembang dan 6 persen di negara industri.

Dunia perlu bergandengan tangan untuk membuat kanker tidak lagi menjadi pembunuh utama. Tantangannya yakni mengontrol meningkatnya kasus kanker secara global, menemukan pengobatan yang tidak menyiksa penderita, serta meningkatkan harapan hidup penderita.

http://www.kompas.com