Setelah hampir seminggu terkatung-katung, playmaker asal Cile, Alejandro Tobar, harus pergi meninggalkan Medan. Ya, PSMS ternyata tak mau lagi memakai jasanya untuk Divisi Utama musim depan. Tak pelak, pemain yang sempat menjadi punggawa PSMS sekian tahun silam itu harus angkat koper, Minggu sore (5/9).

Padahal, sejak kehadiran Tobar untuk seleksi, penonton yang menyaksikan PSMS uji coba maupun latihan semakin bertambah. Dengan kata lain, banyak fans yang datang hanya untuk menyaksikan dan melihat Tobar lebih dekat.
Dan, apa yang diharapkan penonton sejatinya terpuaskan. Setiap Tobar turun ke lapangan, pemain yang memiliki tinggi 180 centimeter tersebut, selalu mempertontonkan penampilan yang gemilang. Tak jarang, sebagai pengatur serangan, Tobar mampu memberikan umpan-umpan matang untuk para striker.

Sayangnya, apa yang diharapkan pendukung PSMS tidak sejalan dengan pengurus dan jajaran pelatih. Fisik Tobar yang belum seratus persen fit seusai cedera dijadikan alasan. “Kita, pengurus dan pelatih, telah sepakat untuk memulangkan Tobar.

Ya, kita tak berani ambil risiko. Cedera Tobar sangat mempengaruhi penampilannya,” kata Sekretaris Umum PSMS, Idris kepada Sumut Pos, Minggu (5/9).

Idris mengakui kehadiran Tobar di Medan membuat suasana latihan dan uji coba PSMS menjadi berwarna. Bahkan dirinya sangat senang ketika Tobar menyatakan ingin bergabung. Meski begitu, romantika saja tampaknya tidak cukup.

Idris meyakini untuk terlibat dalam kompetisi yang panjang, seorang pemain haruslah fit. “Lebih kasihan kita nanti lihat PSMS, kalau kita tidak betul-betul memilih pemain,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh jajaran pelatih. Setidaknya Asisten Pelatih Suyono mengungkapkan permainan Tobar tidak maksimal. “Tobar terlalu menjaga cederanya, bolanya sering dari orang dan bukan hasil yang direbutnya dari kaki lawan,” jelas Suyono usai uji coba PSMS kontra Sumut Selection, Sabtu (4/9).

Pun dengan Pelatih Fisik PSMS Nasib Iwan. Mantan pelatih Fisik PSDS ini malah menyatakan Tobar cenderung memaksakan diri. “Setiap selesai latihan atau uji coba, Tobar selalu mengakui dirinya masih belum sembuh,” jelas Nasib Iwan.

“Cedera yang dideritanya belum sembuh total. Ini dapat dilihat jelas dari caranya berlari. Lalu, saat merebut bola lawan, terlihat kemampuan yang menurun,” tambah Nasib Iwan.

Tobar pertama kali bergabung dengan PSMS pada Liga Indonesia ke-10. Saat itu PSMS masih dibesut pelatih M Khaidir. Bersama Saktiawan Sinaga, Alcidio Fleitas (Cile), Cristian Carrasco (Cile), Mario Alberto (Cile), Mbom Mbom Julien (Kamerun) dan lain-lain, Tobar membawa Ayam Kinantan finis di babak delapan besar. Setahun kemudian, Tobar masih menjadi punggawa PSMS. Bersama Mahyadi Panggaben, Markus Horison, Greg Nwokolo (Nigeria) dan sebagainya, dia ikut berperan membawa PSMS finis di peringkat 5 Wilayah Barat Liga Indonesia dan menjuarai Piala Bang Yos di Jakarta. (mag-5)

sumber : sumutpos