Krisis keuangan juga bisa terjadi pada Anda jika tak mampu mengelola uang dengan baik. Meski pekerjaan masih aman atau bahkan kondisi ekonomi makro masih terkendali, ketidakmampuan Anda mengatur, mengelola, merencanakan keuangan, dan mendisiplinkan diri menjadi sumber krisis finansial personal.

Kondisi ini bisa dihindari meskipun Anda kehilangan pekerjaan, bisnis tak berjalan lancar, atau  kondisi ekonomi makro terpuruk. Memiliki dan menjalankan perencanaan finansial menjadi solusinya.

Planning, strategi, dan disiplin, inilah kunci menghadapi godaan yang banyak dan membuat konsumen konsumtif,” papar Meliana Sutikno, Retail Bank Head Citibank, dalam peluncuran program edukasi perencanaan keuangan berjudul “Managing Your Wealth” dari Citi Indonesia di Jakarta, Rabu (1/9/2010) lalu.

Menabung dan memiliki dana pensiun menjadi sebagian saja cara untuk menyelamatkan kondisi keuangan Anda dari krisis. Dengan memiliki tabungan atau dana cadangan, Anda juga bisa aman meski krisis mendera. Setidaknya Anda masih bisa bertahan dan mampu membiayai hidup meski krisis menghantam, disebabkan kehilangan pekerjaan contohnya.

Sayangnya, tabungan orang Indonesia tak pernah mencukupi untuk melewati masa krisis. Riset Citi Indonesia menyebutkan, satu dari lima orang Indonesia (20 persen) yang memiliki tabungan menyatakan tabungannya hanya mencukupi untuk empat minggu. Rata-rata, orang Indonesia memiliki tabungan yang hanya mencukupi untuk 11 minggu.

Padahal perencana keuangan sering kali menegaskan, sebaiknya Anda memiliki dana cadangan minimal tiga bulan dari penghasilan. Beberapa ada yang mengukurnya bukan dari penghasilan, melainkan pengeluaran. Artinya, rekening di bank Anda seharusnya diisi jumlah uang yang mencukupi kebutuhan selama tiga bulan jika Anda kehilangan mata pencarian.

Merencanakan dana pensiun menjadi kebutuhan lain yang harus Anda penuhi. Tujuannya agar Anda tetap bisa bertahan hidup dengan nyaman saat krisis atau saat tak lagi produktif menghasilkan uang.

Ilmu merencanakan dan mengelola keuangan ini bisa didapatkan dengan banyak cara. Mengikuti seminar, workshop, mencari referensi dari buku, dan berbagai artikel menjadi beberapa caranya. Anda bisa membaca buku Managing Your Wealth atau melalui website di http://www.MYWealth.co.id yang berisi berbagai tahapan perencanaan keuangan dalam relevansinya dengan usia dan kebutuhan.

Apa saja yang dipelajari?

* Mulai memahami bagaimana cara mengendalikan uang Anda, seperti membuat keputusan finansial yang cermat hingga memilih penasihat atau perencana keuangan yang tepat.

* Selanjutnya, bagaimana mengembangkan uang Anda dengan berinvestasi. Mulailah belajar mengenali risiko dan menemukan strategi yang paling tepat untuk Anda, sekaligus memilih produk investasi yang bisa mengoptimalkan uang Anda.

* Pengetahuan tentang memahami dan memanfaatkan kredit juga perlu Anda miliki agar tak mudah terjebak dalam utang kartu kredit.

* Perencanaan keuangan juga dibutuhkan bagi keluarga, termasuk anak-anak. Misalnya, tabungan pendidikan anak.

* Menyiapkan dana pensiun menjadi kebutuhan penting. Sekitar 24 persen orang Indonesia belum memulai rencana dana pensiun (riset Citi Indonesia). Berita baiknya, 38 persen sudah mulai menabung, meski tidak tahu kebutuhan dana pensiun, dan 26 persen telah memiliki perencanaan yang baik untuk dana pensiun. Anda termasuk golongan yang mana?

* Jika kondisi keuangan sehat, Anda bisa mewariskan aset yang Anda miliki dengan tepat untuk keberlangsungan hidup generasi berikutnya. Anda tentu menginginkan anak-anak Anda hidup dengan tenteram bukan? Bahkan ilmu tentang mengelola dana warisan pun bisa Anda pelajari.

Pemahaman tentang perencanaan keuangan tak akan membuahkan hasil jika tidak diimplementasikan dengan komitmen kuat. Disiplin diri menjadi kunci keberhasilan Anda mendapatkan kondisi finansial yang lebih sehat.

“Komitmen setiap individu perlu ditingkatkan, jangan lari dari rencana awal,” tegas Meliana.
WAF

Editor: Dini