Prospek industri asuransi di Indonesia masih cukup menjanjikan. Setiap tahun, pertumbuhan pendapatan premi bisa mencapai 10-30 persen.

Pertumbuhan premi terbesar masih didominasi asuransi jiwa, yakni sebesar 30 persen. Sementara itu, asuransi umum sekitar 10-15 persen.

“Pertumbuhan ini sejalan dengan kemajuan perekonomian,” kata pengamat asuransi Herris B Simanjuntak kepada VIVAnews di Jakarta, Jumat 15 Oktober 2010.

Besarnya potensi bisnis asuransi di Indonesia itu ditunjukkan dengan masih terbukanya ruang bagi pemasaran produk asuransi. Saat ini, dari populasi penduduk Indonesia, hanya sekitar 15 persen yang memiliki produk asuransi. “Jadi masih ada 85 persen pasar yang belum tergarap,” ujarnya.

Kurangnya pemahaman mengenai produk asuransi hingga minimnya sosialisasi dan edukasi menjadi beberapa kendala terhambatnya pengembangan industri asuransi di Indonesia.

Sementara itu, bagi masyarakat yang berminat, umumnya mereka masih ragu bagaimana dapat menikmati manfaat dari pembelian produk asuransi itu.

Untuk itu, guna memberikan gambaran sederhana tentang bagaimana cara memilih produk asuransi yang sesuai kebutuhan, di bawah ini tips dari Kepala Departemen Komunikasi PT Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912, Ana Mustamin:

1. Pilih perusahaan asuransi kredibel
Asuransi terutama asuransi jiwa adalah produk jangka panjang. Karena sifatnya jangka panjang, masyarakat sebaiknya memilih perusahaan asuransi yang kredibel.

Premi yang lebih mahal jangan langsung ditanggapi negatif. Karena tawaran premi yang murah juga perlu diwaspadai. Bisa jadi perusahaan memang sedang membutuhkan likuiditas.

2. Pelajari klausul perjanjian polis
Calon nasabah asuransi sebaiknya jangan hanya mengandalkan informasi agen. Pelajari dengan seksama historikal pembayaran klaimnya.

Untuk asuransi umum, calon nasabah sebaiknya juga mencari informasi tentang pelayanannya. Misalnya untuk asuransi kendaraan, perlu dipahami bagaimana kemudahan klaim hingga bengkel rekanan yang ditunjuk.

Asuransi umum kontraknya relatif lebih pendek, sehingga layanan harus menjadi pertimbangan utama.

Untuk asuransi kesehatan, yang harus menjadi perhatian adalah layanan dan fasilitas termasuk informasi mengenai rumah sakit rekanan. Sebab, pihak rumah sakit biasanya yang paling bisa menilai kinerja perusahaan asuransi kesehatan.

3. Pahami Jenis dan Risiko Asuransi

Sedangkan untuk produksi asuransi unit link, calon nasabah sebaiknya memperhatikan jenis investasinya dan perusahaan rekanan yang menjadi manager investasinya.

Jangan lupa, risiko asuransi unit link ditanggung pemegang polis. Jadi kalau tidak mengerti cara bermain investasinya, lebih baik jangan membeli produk ini. “Secara pribadi saya menyarankan agar kebutuhan asuransi dipisahkan dengan investasi,” kata Ana.

Menurut dia, asuransi dan investasi sifatnya bertolak belakang. “Orang berasuransi karena ingin aman. Sebaliknya, investasi umumnya high risk,” ujarnya.

• VIVAnews

Advertisements