Jika Anda tipe orang yang kurang berani mengambil risiko di saham, bisa coba melirik asuransi unit link. Lebih aman dan bisa meraih average return 23% per unit.
Praktisi asuransi Andri Irwanto mengatakan, masyarakat saat ini sudah tidak bisa dibohongi dan selalu mengacu pada fakta. Menurutnya, bermain di saham, sangat berisiko akibat fluktuasi yang tajam.
Karena itu, selain dana untuk kebutuhan pokok, asuransi unit link menjadi sangat penting. Sebab, selain investasi, unit link juga memproteksi dari sisi income maupun kesehatan.
Kalau hanya asuransi semata, tidak ada perkembangan uang. Selain itu, yang namanya proteksi harus inovatif seperti unit link, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (22/10).

Pada kuartal ketiga 2010, lanjutnya, terjadi kenaikan animo masyarakat terhadap asuransi unit link. Pertumbuhan jumlah nasabah di atas 40% selama kuartal ketiga 2010. Ini dipicu oleh deposito yang tidak menjanjikan karena bunganya kecil. Sekarang, orang disiplin menyimpan uangnya di unit link, imbuhnya.

Melalui unit link, dana yang didapat dari nasabah, diinvestasikan salah satunya di unit link syariah. Sahamnya pun adalah saham yang bagus dan halal. Sedangkan unit link non-syariah disimpan di intrumen yang trennya berkembang seperti saham PT Telkom (TLKM) dan bukan saham gorengan, timpalnya.

Tapi, Andri menggarisbawahi, menyimpan dana di unit link tidak sama dengan menyimpan dana di saham. Menyimpan dana di unit link, sama artinya dengan menyimpan uang dalam jangka panjang berkembang dibandingkan deposito.
Lebih jauh Andri mengatakan, orang meninggal dipicu oleh dua hal: penyakit atau kecelakaan. Kalau orang bermain di saham, lalu terserang stroke dan menghabiskan dana Rp200 juta, sahamnya akan habis. Sedangkan unit link, selain investasinya aman, juga mendapat proteksi jika sakit, tuturnya.
Pada saat yang sama, return unit link jauh lebih tinggi dibandingkan deposito. Sedangkan saham, memang memberikan return yang sangat bagus tapi ada juga yang sangat hancur. Sedangkan unit link sangat menghindari saham-saham yang prospeknya hancur, tukasnya.

Prinsip kehati-hatian atas risiko sangat tinggi berlaku bagi unit link. Berbeda dengan orang yang bermain saham. Mereka rela ada uang yang harus hangus. Sedangkan di Unit Link, bukan tipe investor yang rela uangnya hangus, melainkan orang yang rela punya perencanaan keuangan yang matang. Di unit link bisa mencapai average return 23% per unit, tandas Andri.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Stephen B Juwono mengatakan, pertumbuhan produk asuransi unit link diperkirakan naik 50% menjadi Rp32 triliun di 2010 dibandingkan tahun lalu, Rp21,5 triliun.
Proyeksi peningkaian kinerja produk asuransi itu menyusul tingginya minat masyarakat terhadap produk asuransi sekaligus investasi tersebut. Dia optimistis pertumbuhan tersebut bisa dicapai seiring menguatnya potensi pasar unit link. Selain itu, kondisi pasar modal yang relatif stabil mendorong minat masyarakat untuk berinvestasi sekaligus proteksi. Dia mengatakan jenis asuransi investasi ini lebih transparan, karena nasabah akan mengetahui risiko dan keuntungannya pada awal aplikasi asuransi. Pertumbuhan itu juga didukung membaiknya sejumlah indikator perekonomian di Tanah Air, imbuhnya. [mdr]

 

sumber : inilah.com