Publik kini sedang diramaikan oleh kasus murahnya harga saham perdana PT Krakatau Steel. Dari kisaran harga yang ditetapkan sebesar Rp 800-1.050, pemerintah memilih menetapkan harga terendah untuk IPO yakni hanya Rp 850.

Suara-suara menentang penjualan saham KS melalui KS pun mulai muncul karena penetapan harga yang murah dinilai bisa merugikan. Sementara pemerintah dan underwriter menegaskan, harga saham KS jika ditetapkan Rp 1.000 dinilai terlalu mahal.

Bagaimana sebenarnya penetapan harga saham IPO itu? Banyak yang mengira, penetapan harga IPO selalu mengacu pada harga tertinggi yang ditawar investor. Rupanya, banyak pertimbangan yang dilakukan penjamin emisi (underwriter) dalam menetapkan harga saham perdana.

Mantan Direktur Utama PT Bahana Securities yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito mengungkap proses penetapan harga IPO. Ia menjelaskan, pada dasarnya ada dua hal utama yang harus diperhatikan penjamin emisi dalam proses penetapan harga IPO.

“Pertama, memastikan alokasi jatah saham IPO diberikan kepada investor berkualitas. Kedua, memastikan perdagangan saham di pasar sekunder usai IPO berjalan stabil,” jelas Ito dalam Temu Wicara Wartawan Pasar Modal di Denpasar, Bali, Sabtu (30/10/2010) akhir pekan lalu.

Ito menjabarkan, baik pihak pemegang kendali saham maupun penjamin emisi tidak ingin saham publik yang dilepas melalui IPO tersebut diberikan kepada investor-investor yang tidak berkualitas.

“Karena penjamin emisi itu bertugas menjamin seluruh saham terserap. Dalam proses pemesanan saham IPO, terkadang ada investor yang memesan sekian, tetapi begitu jatuh waktu pembayaran dia tidak bisa menyetor dananya. Kalau demikian, penjamin emisi harus membeli saham IPO yang gagal bayar tersebut. Jadi ini tidak menguntungkan bagi penjamin emisi,” jelas Ito.

Selain itu, penjamin emisi juga harus menjamin bahwa pergerakan harga di pasar sekunder usai pencatatan (listing) stabil alias tidak langsung drop atau jatuh karena didera aksi ambil untung (profit taking).

“Kalau sebagian besar saham IPO diberikan pada investor jangka pendek, bisa-bisa begitu saham diperdagangkan di pasar sekunder langsung jatuh karena profit taking (ambil untung). Ini tidak menguntungkan bagi perusahaan yang melaksanakan IPO dan ini juga berarti penjamin emisi gagal melaksanakan tugasnya. Oleh sebab itu, penjamin emisi harus bisa memperhitungkan dengan cermat kepada siapa saja saham IPO harus diberikan jatahnya,” jelas Ito.

Nah, belakangan ini banyak pihak mempertanyakan alasan saham perdana KS dibanderol sangat murah di level Rp 850 per saham, sedikit lebih tinggi dari harga terendah Rp 800 per saham. Padahal, saham IPO KS mengalami kelebihan permintaan sebanyak 9 kali alias tertinggi sepanjang sejarah IPO Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ito mengakui, ia tidak campur tangan dalam proses penetapan harga tersebut, juga tidak mengecek data-data pemesana IPO KS. Namun berdasarkan pengalaman yang pernah digelutinya dalam perusahaan efek yang sering menjadi penjamin emisi, ia menduga penetapan harga tersebut dilakukan karena kebanyakan investor berkualitas memesan di harga tersebut.

“Dugaan saya, seperti kabar yang saya dengar, investor asing kebanyakan memesan di harga rendah di bawah Rp 1.000, sedangkan yang menawar di harga tinggi atau di atas Rp 1.000 adalah investor lokal dan ritel,” ujar Ito.

Jika demikian situasinya, lanjut Ito, wajar saja penjamin emisi kemudian menetapkan harga IPO KS di harga rendah. Menurut Ito, harus diakui kalau investor asing kebanyakan masuk sebagai pemegang saham jangka panjang (long term), sehingga dapat digolongkan sebagai investor berkualitas.

“Kalau asing itu memang harus diakui kebanyakan pemain jangka panjang, meskipun sebagian kecil akan diperdagangkan jangka pendek, tetapi sebagian besar biasanya diinvestasikan jangka panjang. Berbeda dengan investor lokal apalagi ritel yang cenderung bermain jangka pendek. Kalau harga ditetapkan mengacu pada penawaran harga di atas Rp 1.000 seperti ditawar lokal dan ritel, harga saham KS bisa tidak stabil ke depannya, karena asing yang kebanyakan main jangka panjang tidak akan masuk. Otomatis harga saham KS bisa-bisa tidak stabil ke depannya. Saya pikir penjamin emisi sudah mempertimbangkan masak-masak dalam menetapkan harga IPO KS,” papar Ito.

Kesimpulan Ito, proses penetapan harga IPO tidak melulu diberikan pada penawar tertinggi, tetapi ada faktor-faktor lain yang harus diperhatikan sebagaimana dijabarkan di atas.

“Jadi tidak selalu diberikan pada penawar tertinggi. Penjamin emisi harus memperhatikan prospek pergerakan sahamnya ke depan dalam menjatahkan saham-saham tersebut,” ujarnya.

sumber : detikfinance