Istilah ‘up to’ sering digunakan oleh operator dalam promosi layanan akses internetnya. Penggunaan bahasa ini sebenarnya sedikit menipu karena konsumen tidak mendapatkan kepastian akan kecepatan akses real time yang didapatkan.

Guru Besar Teknologi Informasi di Institut Teknologi Bandung (ITB), Suhono Harso Supangkat, menilai di era broadband saat ini sudah seharusnya penggunaan istilah ‘up
to’
tidak lagi dipakai.

“Di era broadband, up to sudah tidak seharusnya dipakai lagi untuk promosi para operator. Kebutuhan bandwidth yang semakin tinggi seharusnya bisa dipenuhi oleh
operator penyedia akses broadband,” ujarnya kepada detikINET dalam satu kesempatan di Bandung.

Pendapat senada juga disampaikan pengamat telekomunikasi, Sutikno Teguh. Ia mengatakan bahwa penggunaan kata up to kerap merugikan konsumen. Pasalnya, apa yang dijanjikan oleh operator dalam materi promosinya sering kali tidak didapatkan oleh konsumen.

“Bisa dibilang itu akal-akalan mereka (operator),” sengitnya saat berbincang dengan detikINET, Jumat (12/11/2010)

Menyikapi hal ini, Dirut PT Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto mengakui bahwa istilah up to memang lazim digunakan oleh penyedia akses broadband. Ini dikarenakan, jaringan internet pada dasarnya merupakan akses yang dipakai bersama. Sehingga akan sangat sulit memastikan kecepatan akses yang didapatkan konsumen.

“Prinsip nomor satu, internet adalah sharing resoucse. Digunakan bersama-sama. Yang kedua, istilah yg digunakan up to karena penggunaan sharing bergantung pada resource yang digunakan dan tersedia secara bersamaan,” jelasnya saat berbincang di Hotel Holiday Inn, tadi malam.

Istilah Rancu

Indar menambahkan, bukan hanya istilah up to yang menjadi rancu. Istilah dedicated juga tidak bisa dipahami dengan gamblang baik oleh konsumen maupun penyedia jasa akses internet.

“Sekarang ibaratnya anda memiliki rumah di sebuah komplek. Yang namanya dedicated adalah sebuah jalan yang langsung menghubungkan rumah anda dengan arah tujuannya. Nah, begitu keluar komplek, jalan tersebut dipergunakan bukan hanya untuk anda, tapi banyak orang lain. Hal ini tidak bisa disebut dedicated lagi,” katanya menganalogikan.

Pun demikian, Indar mengakui sudah seharusnya istilah up to tersebut dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Sehingga tidak lagi membingungkan konsumen di masa yang akan datang.

“Memang sudah seharusnya istilah tersebut diganti dalam Bahasa Indonesia. Sehingga konsumen bisa langsung mengerti,” tukasnya.

Disinggung sampai kapan istilah up to tersebut akan terus dipakai, Indar mengaku harus ada kesepakatan bersama antar operator dalam berpromosi layanannya.

“Sampai kapan, ya kita harus sama-sama memikirkan. Karena perlu effort untuk menjelaskan ke konsumen. Saat ini memang sudah perlahan, istilah-istilah dalam
internet diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Ini bagus, tinggal kita bersama-sama untuk membiasakannya,” tukasnya.

sumber : detikFinance