Tahi lalat bisa mempermanis penampilan. Bisa membuat si empunya bangga karena ia bertengger di tempat yang menurut primbon membawa keberuntungan. Sebaliknya, ada juga yang menganggapnya tanda kesialan, sehingga berupaya membuangnya. Dari sisi medis, tahi lalat tak jelas benar apa fungsinya. Bahayanya, si hitam ini bisa jadi gejala kanker kulit.

Karena khawatir membahayakan, artis Cici Paramida membuang tahi lalat di pipi kanannya yang terus membesar lewat jalan operasi. Sementara mantan penyanyi cilik Enno Lerian sampai dua kali menjalani teknik laser untuk menghapus tahi lalat di hidungnya.

“Sebelumnya saya konsultasi dulu ke dokter kulit. Daripada membahayakan kesehatan, ya lebih baik dihilangkan saja,” ujar Cici suatu kali. Tahi lalat, dijelaskan Dr. Midi Haryani, Sp.KK, ahli kulit dari RS Hermina Jatinegara, sebenarnya merupakan tanda lahir berupa suatu massa yang umumnya berwarna cokelat atau hitam.

Tahi lalat (nevi) merupakan indikasi terjadinya penumpukan pigmen. “Pigmen ini sudah tertahan di bawah kulit sejak janin,” katanya. Pigmen yang terjebak itu sudah menempati “posnya” sejak bayi masih dalam kandungan. Jumlahnya tidak hanya satu. Tiap orang setidaknya memiliki sepuluh tahi lalat di tubuhnya.

Menurut Dr. Midi, pigmen-pigmen ini memiliki sarang di bawah kulit dan bisa timbul sewaktu-waktu. Itulah sebabnya mengapa tahi lalat bisa bertambah banyak seiring bertambahnya usia.

“Jadi jangan kaget jika tiba-tiba menemukan tahi lalat di jari tangan, padahal sebelumnya tidak ada. Warnanya pun bisa semakin gelap seiring usia. Tapi, tidak menutup kemungkinan tahi lalat tersebut tidak muncul, meski ada sarang pigmennya,” paparnya.

Timbul gatal
Tahi lalat kebanyakan tidak berbahaya, meski terkadang bisa berubah menjadi ganas. Ini yang melahirkan pendapat, makin banyak tahi lalat, makin besar risiko terjadinya kanker kulit.
“Itu tidak benar. Belum tentu orang yang tahi lalatnya banyak atau besar-besar sudah pasti terserang kanker kulit,” ujar Dr. Midi.

Pertumbuhan tahi lalat tergolong wajar jika membesar seperti benjolan kecil. Apalagi, kebanyakan tahi lalat memang membesar seiring bertambahnya usia. Tahi lalat yang memiliki bulu pun sebenarnya tidak berbahaya. “Itu masih tergolong pertumbuhan yang jinak dan tidak membahayakan,” ungkapnya.

Pertumbuhan tahi lalat baru patut diwaspadai jika membuat empunya tidak nyaman dengan sensasi yang ditimbulkan. Contohnya, timbul rasa gatal, apalagi jika sampai keluar darah atau nanah ketika digaruk; warna tahi lalat berubah menjadi gelap pekat; gradasi warnanya tidak sesuai dengan kulit di sekelilingnya atau bahkan menjadi merah.

Perubahan bentuk juga bisa menyertai, misalnya bentuknya tak beraturan atau bergerigi. “Jika menemukan tahi lalat yang demikian, segera periksakan ke dokter. Dan sebaiknya jangan diotak-atik karena jika sampai pecah akan mudah menyebar, kata Dr. Midi.

Mudah menyebar
Tahi lalat serupa itu dikhawatirkan bisa mencetuskan kanker kulit jenis melanoma maligna. Ham pir separuh kasus melanoma maligna berawal dari tahi lalat. “Kasus ini menjadi banyak karena si pemilik tidak segera ke dokter. Ketika datang ke dokter, biasanya sudah masuk tahap lanjut,” tuturnya.

Jika terbukti ganas, akan dilakukan pembedahan untuk mengangkat tahi lalat. Kalau perlu, kulit di sekitar tahi lalat akan diangkat pula. Tindakan ini diperlukan karena melanoma maligna mudah menyebar ke seluruh tubuh. Jika belum menyebar, angka kesembuhan kanker kulit ini sangat besar. Hanya saja, tetap ada risiko kanker ini datang lagi. Karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan kulit, termasuk tahi lalatnya, secara teratur. (GHS/Michael)

sumber : kompas.com