Research In Motion (RIM) akhirnya memilih DNS Nawala sebagai jalan keluar dari tuntutan pemerintah yang menginginkan adanya filtering di akses internet BlackBerry. Menariknya, RIM tak perlu keluar uang banyak untuk memanfaatkan solusi ini.

Pengurus Yayasan Nawala, MS Manggalanny mengatakan, produsen BlackBerry itu sudah resmi menggunakan DNS Nawala untuk melakukan sensor di BlackBerry. Namun hingga saat ini, belum ada komitmen kontribusi apa-apa dari RIM sebagai timbal-balik.

Enggak bayar. Cuma janji doang mau kontribusi, entah apa bentuknya enggak jelas,” seloroh lelaki yang biasa disapa Didin Pataka ini kepada detikINET, Kamis (20/1/2011).

Sensor internet di BlackBerry sebelumnya memang dikabarkan sempat terhadang lantaran pihak-pihak yang berkepentingan belum menemui kata sepakat mengenai siapa yang harus mengeluarkan investasi untuk menyiapkan sistem filtering, operator atau RIM.

Bahkan Plt. Dirjen Sumberdaya dan Perangkat Pos dan Informatika (dulu Pos dan Telekomunikasi) Muhammad Budi Setyawan pernah berujar bahwa RIM tak mau keluar uang demi menyukseskan gerakan internet sehat dan aman ini. Mereka malah menyerahkan dana investasi kepada operator, selaku partner resminya di Indonesia.

“Namanya pengusaha, kan ingin selalu untung. Sekarang coba hitung, berapa banyak uang yang sudah didapat mereka dari BlackBerry yang kalian gunakan,” geram Iwan, sapaan akrabnya, kala itu.

Jelas saja, sikap ‘hemat’ RIM ini langsung ditolak pemerintah. Terlebih lagi jika melihat track record vendor asal Kanada ini dimana BlackBerry telah dipasarkan melalui 475 mitra operator dan channel di 160 negara di dunia. Sementara di Asia Pasifik, RIM bekerjasama dengan lebih dari 45 operator di 20 negara termasuk Indonesia.

Namun akhirnya, isu tarik ulur soal investasi tersebut akhirnya menghilang dengan dipilihnya Nawala sebagai jalan keluar.

Menurut Irvan Nasrun, praktisi internet Indonesia, langkah RIM memilih Nawala merupakan langkah tepat nan hemat. Sebab, di satu sisi mereka bisa memenuhi desakan pemerintah untuk memfilter pornografi di akses internet BlackBerry. Di sisi lain mereka melakukannya tanpa modal yang memberatkan.

“Karena mereka tidak perlu menyediakan server filtering sendiri hanya cukup memanfaatkan DNS Nawala,” tukasnya.

Pun demikian, Irvan mengimbau sebaiknya Blackberry menyediakan server filtering sendiri. Pasalnya, dampak penggunaan Nawala ini dapat membuat kecepatan akses membuka situs akan menjadi sedikit lebih lambat.

“Dikhawatirkan juga untuk membuka beberapa website di bawah Akamai akan mengalami masalah misalnya untuk membuka Facebook, Microsoft, Intel, dan lainnya,” lanjutnya.

Kekhawatiran ini juga berlaku ketika koneksi dari RIM ke Nawala yang di bawah jaringan Telkom dan Biznet adalah melalui koneksi internasional sehingga apabila terjadi masalah pada upstream Telkom atau Biznet maka akses internet di BlackBerry juga akan mengalami masalah.

Nawala

Nawala merupakan project solusi DNS filtering yang digawangi oleh Asosiasi Warnet Indonesia (AWARI) yang disponsori oleh Telkom. Solusi filtering ini juga digunakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memfilter konten porno melalui jaringan operator.

Menurut Didin, Nawala sejatinya bisa menjadi baseline filtering nasional karena DNS based filtering itu moderat. Artinya, dia memang hanya memfilter situs/domain yang eksplisit secara keseluruhan situs tersebut berisi konten negatif.

DNS based disukai karena dia tidak menilai konten yang ada di salah satu url. Misalnya, ada konten negatif yang kebetulan muncul di forum maka bukan berarti seluruh situs forum tersebut negatif dan sepenuhnya konten dalam url tersebut jadi tanggung jawab pengelola situs.

Nah, artinya yang domain terfilter itu sudah pasti jelas eksplisit memang negatif misalnya Playboy, ya memang dia porno,” jelas Didin.

Sementara yang url, Didin menilai pasti kucing-kucingan. Makanya sering disebut fenomena ‘balon’, dipencet di sini muncul di sana, begitu seterusnya.

Sebab untuk url filtering itu pihak pemerintah, komunitas ISP harus duduk bareng demi menentukan url mana yang harus difilter dan untuk berapa lama filtering ini dilakukan.

“Karena url filtering itu sifatnya pindah-pindah seperti bajing loncat. Patah tumbuh hilang berganti dan biasanya harus dikombinasikan dengan keyword,” lanjutnya.

“Keduanya komplementer, saling melengkapi. Cuma kalau DNS itu lebih pasti, gak berubah-ubah maka dia cocok menjadi baseline filtering. Misalnya by default pemerintah mewajibkan semua ISP memakai Nawala. Jadi lebih mudah, murah, aman, pasti, relatif permanen,” pungkas Didin. ( ash / rns )

sumber : detikinet