SAAT ini, banyak tehnik yang dilakukan untuk menentukan jenis kelamin bayi yang dikandung, mulai dari tingkat keberhasilan kecil sampai besar. “Tapi tetap yang menentukan adalah Tuhan, manusia hanya bisa berusaha,” ujar dr. Ferryal Loetan, ASC & T, SpRM, MKes-MMR yang berpraktek di Win Klinik.

Katanya, untuk menentukan jenis kelamin bayi yang diinginkan, perlu persiapan yang maksimal. Pasangan suami-istri harus sehat dan normal, masing-masing tidak terganggu kemampuan seksualnya, dan mempunyai organ reproduksi yang sehat. Artinya, tidak memiliki penyakit fisik (misalnya kelainan tulang atau kelainan hormonal), infeksi (termasuk infeksi penyakit kelamin) atau penyakit seksual (misalnya disfungsi seksual yang menimpa laki-laki dan perempuan, ejakulasi dini, impoten, dispaurenia, dan sebagainya.

Pemeriksaan Intensif

Tentu saja, perencanaan harus matang. Lakukan konsultasi ke dokter dan periksakan secara intensif, utamanya bulan-bulan terakhir saat hendak terjadinya ovulasi. Pemeriksaan khusus bagi suami, apakah membawa lebih banyak gen positif laki-laki atau perempuan. Begitu juga sang istri, apakah lebih banyak membawa sel telur laki-laki atau perempuan – bergantung genetiknya seperti apa.

Sifat Kromosom X dan Y

Jenis kelamin manusia ditentukan oleh kromosomnya. Artinya, sel telur wanita mempunyai kromosom X (dan X) dan sperma laki-laki mengandung kromoson X atau Y. Sperma yang berkromosom X bila bertemu dengan sel telur akan menjadi individu yang berkromosom XX – menjadi bayi perempuan. Sedangkan jika sperma Y bertemu dengan sel telur akan menjadi individu dengan kromosom XY – menjadi bayi laki-laki.

Berdasarkan penelitian, sperma berkromosom X bentuknya lebih besar dan gerakannya lebih lambat, tetapi lebih kuat. Sebaliknya, kromosom Y bentuknya lebih kecil dan gerakannya lebih lincah dan cepat tetapi lebih lemah. Perbedaan sifat-sifat inilah yang dimanfaatkan pada saat melakukan hubungan seks untuk bisa menentukan jenis kelamin yang diinginkan.

Jika ingin bayi laki-laki:

1. Pengaturan pola makan dan minum. Suami sebaiknya mengonsumsi kafein dan minuman yang bersifat basa seperti soft drink. Sedangkan istri sebaiknya banyak mengonsumsi daging dan makanan asin.
2. Sebelum berhubungan seks, suami sebaiknya mandi dengan air dingin lebih dulu.
3. Posisi hubungan seks berdiri atau menyamping (knee chest).
4. Lakukan sanggama sedekat mungkin dengan saat ovulasi (masa subur).
5. Istri harus mengalami orgasme terlebih dulu, dan suami pada saat orgasme melakukan penetrasi Mr P yang dalam.
6. Hindari bersenggama beberapa hari sebelum ovulasi.
7. Sebelum berhubungan seks, basuh Miss V dengan larutan bikarbonat (soda) yaitu 1 liter air + 2 sendok garam soda.

Jika ingin bayi perempuan:
1. Bagi suami makanlah banyak ikan dan sayuran hijau.
2. Bagi istri makan makanan manis seperti permen dan coklat.
3. Sebelum melakukan hubungan seks, suami terlebih dulu mandi air dingin.
4. Lakukan sanggama 3 hari sebelum ovulasi, hentikan 2 hari menjelang ovulasi.
5. Suami saat orgasme/ejakulasi, jangan lakukan penetrasi Mr P yang dalam.
6. Lakukan sanggama setelah haid tiap 2 hari secara teratur, sampai 2 – 3 kali sebelum ovulasi.
7. Posisi perempuan berada di atas pada saat berhubungan seks (women on top).
8. Suami harus mengalami orgasme terlebih dulu, istri hindarkan orgasme.
9. Sebelum berhubungan seks, bilas Miss V dengan larutan yang bersifat asam (garam dapur), yaitu 1 liter air + 2 sendok makan garam.

“Kalau semua cara diikuti mulai dari hal kecil sampai besar, dilakukan dan diatur, maka tingkat keberhasilannya bisa mencapai 60 persen,” lanjut dr. Ferryal.

Teknik Lain

Ada pula cara yang lebih rumit, yakni teknik inseminasi memakai teknik pencucian sperma khusus (albumin gradient) yang disebut metoda Ericsson atau pemisahan sperma X dan Y dengan alat khusus (microsort). Biasa dikenal dengan istilah semi bayi tabung, yakni sperma suami diambil lalu dimasukkan ke dalam rahim sang istri. Tingkat keberhasilan cara ini lebih besar.

Tapi, cara lain yang lebih akurat adalah melalui program bayi tabung dengan memilih jenis kelamin embrio yang akan dimasukkan ke dalam rahim dengan tehnik khusus (pre implantation genetic diagnosis/PGD). Tingkat keberhasilannya sangat tinggi, mencapat 90 persen. Tentunya Anda harus siap merogoh kocek lebih besar lagi. Tertarik?

(Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)