Tanda-tanda paling nyata yang menunjukkan orang sedang mengantuk atau kelelahan adalah menguap lebar-lebar. Namun alasan orang menguap tidak hanya sekedar mengantuk, melainkan sebuah mekanisme untuk mendinginkan otak yang kepanasan.

Ketika seseorang menguap, udara dari lingkungan akan masuk melalui saluran pernapasan. Temperatur udara yang lebih dingin akan diteruskan oleh aliran darah menuju otak yang kepanasan karena terlalu lama bekerja, sehingga terjadi pertukaran panas.

Mekanisme ini mirip seperti radiator pada mesin mobil, yang mengeluarkan panas dari mesin melalui cairan yang diedarkan melalui pipa-pipa kecil dari mesin menuju radiator. Pertukaran panas terjadi melalui komponen logam pada radiator saat angin dihembuskan dengan kipas.

Berdasarkan teori ini, maka seharusnya seseorang akan lebih sering menguap di musim panas atau ketika ketika cuaca sedang panas. Logikanya ketika cuaca di lingkungan sedang panas-panasnya, temperatur otak juga akan lebih cepat mengalami peningkatan.

Namun penelitian Prof Andrew Gallup dari Princeton University menunjukkan fakta sebaliknya. Pada musim dingin ketika temperatur udara di lingkungan sedang dingin, orang justru lebih sering menguap dibandingkan saat musim panas ketika orang mengira otaknya akan cepat kepanasan.

Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 80 orang pejalan kaki di Arizona tersebut, lebih dari 50 persen partisipan menguap di musim dingin. Sedangkan di musim panas, jumlah partisipan yang menguap justru lebih sedikit yakni hanya 25 persen.

“Mekanisme pertukaran panas di otak tidak terjadi ketika suhu lingkungan juga panas, sehingga orang-orang justru lebih jarang menguap karena memang tidak banyak manfaatnya bagi otak,” terang Prof Gallup seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (21/9/2011).

Sebagai buktinya, Prof Gallup menunjukkan data bahwa 40 persen responden sama-sama menguap pada 5 menit pertama berada di luar duangan, baik pada musim panas maupun musim dingin. Perbedaan frekuensi menguap baru tampak ketika otak tidak merasakan manfaatnya di musim panas.

sumber : detikHealth